Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengatakan demikian. Oleh sebab itu, Telkomsel tetap menganggarkan investasi yang besar untuk pengembangan dan pembangunan infrastruktur broadband.
"Sekalipun dampak krisis keuangan global mulai dirasakan di Indonesia, kami tidak mengurangi belanja modal. Tahun ini tetap US$ 1,5 miliar. Tiga tahun berturut turut kami mengalokasikan belanja modal yang besar," ujarnya di kantor pusat Telkomsel, Jakarta, Rabu (25/2/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain Telkomsel juga mengajukan penambahan satu blok frekuensi 3G ke pemerintah." Kami telah mengajukan permohonan ke pemerintah dengan penawaran harga terbaik," kata Sarwoto.
Dirut Telkomsel ini enggan menyebutkan berapa nilai yang diajukan. Pada tender 3G tahun 2006 biaya up front fee satu blok Rp 160 miliar.
Telkomsel saat ini memiliki satu blok atau 5 MHz. Kata Sarwoto, dengan penambahan frekuensi layanan broadband akan menjadi lebih baik dan terjangkau.
Sarwoto mengungkapkan bahwa untuk menopang pertumbuhan harus didukung investasi. Telkomsel, kata dia, konsisten untuk menerapkan strategi pertumbuhan dengan investasi.
Investasi akan dimanfaatkan untuk ekspansi dan enhancement jaringan, serta pengembangan bisanis baru seperti mobile wallet, mobile broadband dan value added service (VAS atau layanan nilai tambah).
(rou/faw)