Demikian hasil riset yang dikemukakan Sharing Vision kepada detikINET, Selasa (27/1/2009). Survei yang digelar Januari ini, mengambil metode sampling acak pada 150 responden usia produktif di Jakarta dan Bandung.
Sebanyak 91 persen responden mengaku antusias jika operator memberikan perangkat gratis. Sementara, 92 persen juga menginginkan tarif langganan ditawarkan dalam satu paket bulanan, bukan dihitung dari jumlah pemakaian bandwidth.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"92 persen bersedia berlangganan jika harga terealisasi," Direktur Riset Telematika Sharing Vision, Dimitri Mahayana, menuturkan.
Dari 150 responden yang disurvei secara acak ini masih menggunakan akses internet Telkom Speedy (40%), Indosat M2 (16%), Telkomsel Flash (11%), Indosat 3G (11%), XL 3G (11%), Mobile-8 Fren (5%), Jalawave dan Melsa (3%), dan lainnya (3%).
Mayoritas responden beranggapan tarif akses internet yang digunakan saat ini masih mahal (77%). Cuma 23 persen responden yang menganggap tarif sudah cukup terjangkau kantong mereka.
"Namun mereka masih toleransi jika tarif akses unlimited yang ditawarkan berkisar Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu untuk kecepatan minimum 256 kbps," tukas Dimitri.
Ia menyimpulkan, ada tiga hal yang harus dipenuhi operator nantinya dalam menyelenggarakan Wimax. "Mereka harus membuktikan kualitas dan kecepatan Wimax, harga perangkat harus murah, dan tarif berlangganan yang kompetitif," tandas dosen teknik dari ITB ini.
(rou/ash)