Kekhawatiran itu diungkapkan Ketua Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia Sylvia Sumarlin. Menurutnya, si pemenang tender USO nantinya akan bermain sendiri untuk membangun jaringan telekomunikasi di wilayah pedesaan tersebut.
"Saya bersyukur saat ini ada XL, Indosat dan yang lain. Dulu waktu cuma ada Telkom, kita sampai menggedor-gedor untuk minta E1. Sekarang operator banyak dan kita bisa minta ke yang lain. Sekarang bayangkan jika itu yang terjadi. Apakah ekosistem itu yang diharapkan? Mana mau harga lebih murah, biayanya bisa dimonopolistik dong?," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah pun disarankan mengubah mekanisme tender USO ini. Yakni, jangan menetapkan satu pemenang tender untuk menggarap proyek USO secara nasional.
"Intinya kan USO untuk membangun pedesaan tertinggal. Kita sudah mampu, sekarang kalau mengharapkan kami, dari yang mampu ini, kasih dong kesempatan." tukasnya kepada detikINET, Rabu (29/10/2008).
Namun di sisi lain, regulator sepertinya masih tak bergeming dengan desakan dari para penyelenggara jasa internet dan telekomunikasi yang ingin ikut ambil bagian dalam tender telepon pedesaan ini.
Sylvia bahkan sampai menyebut alasan yang dibuat regulator sebagai sesuatu yang lucu. Seperti misalnya alasan yang menyebut bakal terjadinya masalah routing numbering jika ISP yang menggarap proyek USO ini.
"Masalah dimana? Routing dan pemberian IP kita yang mengatur. Itu lucu, kita kan orang teknis," tegasnya.
Selain itu, lanjut Sylvia, soal anjuran regulator agar ISP nantinya menggandeng penyelenggara jaringan yang nantinya menjadi pemenang tender jika tetep keukeuh ingin ikut serta dalam USO itu juga dianggap aneh.
"Seorang penyelenggara jaringan besar itu kan juga punya penyelenggara jasanya atau ISP sendiri, apa mungkin bekerja sama dengan penyelenggara jasa yang lain? Mungkin gak? Bagaimana caranya?," punkasnya balik bertanya. (ash/wsh)