berlangganan telepon kabel.
Pelanggan kedua layanan itu rata-rata mengeluarkan biaya pemakaian (average revenue per user/ARPU) sekitar Rp 200 ribu tiap bulannya. Cuma Flexi yang ARPU-nya 50 ribu. Meski ARPU telepon kabel masih cukup tinggi, namun ke depannya, layanan itu katanya akan lebih difokuskan untuk koneksi data.
"Kita akan restrukturisasi layanan, di mana layanan voice lebih difokuskan ke Flexi, sementara telepon rumah kabel kita arahkan untuk layanan data triple play bersama dengan Speedy," kata Mas'ud.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan satu tagihan, pelanggan bisa memilih program menarik sesuai keinginan. Misalnya, abonemen bisa gratis, atau tagihan satu juta rupiah untuk pemakaian semua layanan melalui paket hemat keluarga. Bisa saja. Telekomunikasi jadi lebih murah," ujar Mas'ud.
Berbicara mengenai Speedy, Mas'ud menilai tingkat kepuasan pelanggan layanan internet broadband ini semakin membaik. Dari 25 ribu sambungan Speedy yang berhasil dipasarkan Divre II setiap bulannya, jumlah pelanggan yang berhenti berlangganan tak lebih dari 5%. "Artinya, banyak pelanggan yang merasa puas."
Meski demikian, Mas'ud akan terus berupaya meningkatkan mutu pelayanan agar pelanggan Speedy bisa mendapatkan benefit yang lebih baik lagi. Sebab, Speedy kini telah menjadi ujung tombak pendapatan Telkom setelah seluler melalui anak usaha Telkomsel.
Punya keluhan seputar operator telekomunikasi di Indonesia? Sampaikan saja ke detikINET Forum.
(rou/ash)