Menurut survei yang dilakukan perusahaan Marshal terhadap 662 responden yang merupakan pengguna internet aktif yang senang belanja online, 29% dari mereka mengaku telah membeli sedikitnya 1 barang hasil dari pemasaran yang dilakukan spammer lewat e-mail.
Barang-barang yang biasa ditawarkan e-mail spam antara lain obat-obatan, jam, perhiasan, baju dan barang-barang mewah yang 'tidak resmi' karena yang barang aslinya mahal atau susah sekali didapat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil dari studi yang digagas perusahaan Marshal ini memang belum bisa dikatakan valid mengingat terlalu sedikitnya responden bila dibandingkan dengan pengguna internet aktif yang senang belanja online.
Sebelumnya, tahun 2004, Perusahaan Forester Reasearch juga melakukan hal yang sama terhadap 6000 responden. Hasil yang lalu menyatakan 20% dari ribuan responden itu juga mengakui pernah membeli barang yang ditawarkan melalui spam.
Lebih lanjut dijelaskan, bukti-bukti ini menjadi cukup jelas mengapa spam masih terus beredar. "Ada orang yang membeli produk dari spam membuat spammer mengeruk keuntungan," tukas Anstis. Hal tersebutlah yang membuat e-mail spam terus menggila.
(amz/amz)