Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Militer Perlu Tiru Cara Perang Dedemit Maya

Militer Perlu Tiru Cara Perang Dedemit Maya


- detikInet

California - 'Dedemit Maya' kerap menggunakan jaringan 'botnet' untuk melakukan serangan cyber. Seorang kolonel Angkatan Udara pun menyarankan militer meniru cara perang itu.

Adalah Kolonel Charles Williamson III, dari Angkatan Udara Amerika Serikat, yang mengajukan hal itu dalam tulisan yang dimuat di ArmedForcesJournal.com seperti dikutip detikINET, Jumat (16/5/2008). "Masanya benteng sudah berlalu, bahkan di dunia cyber. Amerika memang harus memperkuat pertahanan di dunia cyber, tapi kita tidak boleh membiarkan musuh merajalela di ranah itu," tulis Williamson.

Botnet adalah sebutan untuk jaringan ratusan, bahkan ribuan, komputer di dunia yang terinfeksi program jahat. Komputer tersebut dikendalikan oleh 'dedemit maya' untuk melakukan serangan atau serbuan e-mail sampah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun Williamson mengatakan botnet militer tak akan dibuat dengan menginfeksi komputer di dunia. Ia menyarankan militer memanfaatkan komputer lawas yang tadinya akan dibuang serta komputer-komputer di berbagai kantor pemerintahan.

Serangan botnet 'dedemit maya' konon telah dilancarkan dengan sukses untuk melumpuhkan komputer pemerintahan Estonia dalam perang cyber tahun 2007. Ketika itu serangan yang dilakukan memakai metode distributed denial of service (DDoS).

Namun peneliti dari F-Secure, sebuah perusahaan keamanan komputer asal Finlandia, mempertanyakan pendapat Williamson. Salah satunya adalah sifat botnet yang tersebar di seluruh dunia dan kemungkinan besar bukan ada di komputer dari negara asal penyerang.

"Sangat mungkin serangan besar yang akan memaksa angkatan bersenjata untuk membalas dengan botnet sebenarnya berasal dari dalam Amerika Serikat sendiri," tutur Mikko Hypponen seperti dikutip detikINET dari F-Secure, Jumat (16/5/2008).

Bahkan, lanjut Mikko, terdapat kasus seorang 'penggembala' botnet yang memanfaatkan komputer dari dalam institusi militer sendiri. Artinya, ada potensi serangan balasan justru akan menjadi 'senjata makan tuan'.

Williamson pun mengakui, serangan botnet dari militer akan terganjal dari sisi politik. Ia mencontohkan, akan sulit memberi alasan pada negara-negara sekutu AS ketika botnet militer mematikan jaringan komputer di negara sekutu itu. Juga, ujarnya, akan sulit mencari alasan jika komputer yang jadi sasaran botnet militer adalah milik perusahaan yang beroperasi di AS.

Bagaimana dengan Indonesia? Apa yang bisa kita lakukan di era perang cyber? Diskusikan dalam detikINET Forum (wsh/wsh)





Hide Ads