Bahaya celah keamanan kritis pada bahasa pemrograman PHP berlabel PHP2Shell ramai diperbincangkan. Bagaimana dampaknya kepada Indonesia mengingat banyak situs pemerintahan dan swasta yang menggunakannya?
Untuk hal itu, detikINET langsung bertanya ke Alfons Tanujaya selaku Pakar Keamanan Siber Vaksincom.
"Ini sangat serius tapi tidak sampai levelnya membuat krisis internet. Itu terlalu berlebihan," terangnya melalui pesan singkat, Kamis (22/20/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang sering disalahpahami adalah pengelola situs merasa sudah aman ketika Wordpress-nya dan plugin wordpress-nya selalu di update. Padahal, meski CMS (wordpress) atau plugin sudah dilakukan tetapi celah ini tidak akan ikut tertutup, karena kali ini yang bermasalah adalah PHP di servernya.
"Masalah yang lebih besar kemungkinan besar adalah PHP yang banyak dipakai di server web Indonesia kemungkinan besar banyak yang jadul. Dan sekarang versi yang ada updatenya hanya versi 8.2.35, 8.2.36 dan 8.5.12 dan versi 8.1 ke bawah sudah tidak di dukung," imbuh Alfons.
Oleh karena itu, semuanya harus kerja ekstra melakukan patch manual (backport) jika disediakan oleh tim PHP. Akan tetapi intinya, lebih disarankan untuk langsung ganti ke PHP baru.
"Dari statistik dunia, sekitar 59 % PHP itu versi yang tidak mendapatkan perbaikan resmi. Jadi di situ salah satu masalah utamanya. Data di Indonesia saya tidak punya, nanti coba kita kumpulkan tapi dari pengalaman menangani situs judol, php versi 5 dan versi 7 saja masih banyak ditemukan," tutur Alfons.
Kabar buruknya serangan ini sudah dilancarkan dan kode eksploitasi sudah beredar. Jika situs ada situs yang belum di-patch, maka 'tinggal tunggu giliran' untuk disusupi.
Diketahui sebelumnya bahwa kepanikan soal PHP2Shell dipicu oleh dua celah keamanan kritis yang ditemukan oleh para peneliti keamanan siber dengan bantuan model kecerdasan buatan (AI) milik OpenAI dan Alphabet (Wiz).
Celah PHP2Shell memungkinkan peretas mengeksekusi perintah berbahaya dari jarak jauh pada server yang menjalankan kode PHP lama. Akibatnya, peretas dapat mengambil alih kendali sistem secara penuh tanpa memerlukan kata sandi maupun hak akses akun resmi.

