Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Deretan AI Tercanggih yang Bisa Jadi Hacker

Deretan AI Tercanggih yang Bisa Jadi Hacker


Anggoro Suryo Jati - detikInet

Ilustrasi hacker
Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto
Jakarta -

Perusahaan layanan keamanan siber Ensign InfoSecurity (Ensign) merilis temuan dari fasilitas AI Cyber Range miliknya.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa model kecerdasan buatan (AI) canggih kini sudah mampu menjalankan berbagai tahapan rangkaian serangan siber terhadap organisasi secara mandiri, sehingga menekan biaya dan tingkat keahlian teknis yang dibutuhkan peretas.

Dari evaluasi terhadap lebih dari 150 model AI publik, Ensign menyeleksi 10 model terbaik untuk diuji terhadap delapan target serangan siber:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

  • Tiga Model Teratas: GPT-5.6 Sol (OpenAI), Claude Opus 4.8 (Anthropic), dan GLM 5.2 (Z.AI) mencatatkan tingkat keberhasilan tertinggi dengan menembus 7 dari 8 tujuan serangan.
  • Efisiensi Model Timur: Model asal China, Z.AI GLM-5.2, menunjukkan performa ofensif yang setara dengan GPT-5.6, namun dengan biaya operasional hanya sekitar 20% (seperlima)-nya. Hal ini menandakan faktor biaya, bukan lagi kemampuan teknis, yang akan menjadi pendorong utama kejahatan siber berbasis AI.

ADVERTISEMENT

Pertahanan Perimeter Rentan, EDR Masih Tangguh

Pengujian Ensign mengungkapkan bahwa kesepuluh model AI yang diuji berhasil memperoleh akses awal (initial access) di lingkungan jaringan terkontrol. Hal ini memperingatkan organisasi bahwa pertahanan luar (perimeter) sangat rawan ditembus oleh otomatisasi AI.

Meski demikian, keandalan model AI menurun saat mencoba mencuri kredensial serta bergerak antar-sistem (lateral movement). Selain itu, tidak ada satu pun model AI yang berhasil meloloskan diri dari sistem perlindungan Endpoint Detection and Response (EDR).

Head of Consulting PT Ensign InfoSecurity Indonesia, Adithya Nugraputra, menyebutkan bahwa pemantauan internal tetap menjadi kunci membendung serangan AI.

"Meskipun model AI canggih sudah mampu menjalankan berbagai tahapan serangan siber, kemampuan deteksi dan respons yang efektif masih dapat menjadi hambatan yang berarti setelah akses awal berhasil diperoleh. Kontrol identitas yang kuat dan segmentasi jaringan dapat mempersulit penyerang untuk bergerak lebih jauh," jelas Adithya, di Jakarta Rabu (16/9/2026).



(asj/asj)




Hide Ads