Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Deretan Ancaman Keamanan Baru Berbasis AI: Makin Pintar dan Ngeri

Deretan Ancaman Keamanan Baru Berbasis AI: Makin Pintar dan Ngeri


Anggoro Suryo Jati - detikInet

Akamai
Foto: Dok. Akamai
Jakarta -

Perusahaan di kawasan Asia Pasifik kini makin ngebut mengadopsi Artificial Intelligence (AI). Bukan lagi sekadar coba-coba atau eksperimen, AI kini sudah terjun langsung ke sistem produksi untuk melakukan pekerjaan nyata. Tapi awas, di balik kecanggihan dan efisiensi yang ditawarkan, ada ancaman keamanan siber yang jauh lebih rumit menanti.

Reuben Koh, Security Technology and Strategy Director Asia-Pacific and Japan Akamai, memperingatkan bahwa AI tidak bisa disamakan dengan gelombang teknologi sebelumnya. AI bukanlah sekadar aplikasi tunggal, melainkan sebuah ekosistem masif yang terdiri dari software, hardware, data, hingga identitas manusia.

"Akibatnya, mengukur risiko yang dibawa AI ke dalam organisasi menjadi jauh lebih kompleks," ungkap Reuben, dalam keterangan yang diterima detikINET.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

4 Titik Lemah Ekosistem AI

Reuben mengidentifikasi empat area utama yang paling rawan dieksploitasi dalam ekosistem AI perusahaan:

  1. Data: AI sangat bergantung pada data. Saat perusahaan memasukkan data sensitif atau rahasia ke dalam sistem untuk training AI, potensi kebocoran data menjadi risiko yang sangat serius.
  2. API: Berfungsi sebagai jembatan komunikasi antar sistem AI. API sering kali menjadi titik terlemah yang paling sering diincar peretas.
  3. Model AI: Model AI rentan terhadap manipulasi, serangan, hingga fenomena hallucination (memberikan jawaban salah yang meyakinkan).
  4. Identitas dan Akses: Memasuki era Agentic AI (AI yang bisa bertindak mandiri), memberi AI akses ke sistem internal memiliki risiko yang setara dengan ancaman orang dalam (malicious insider).

Menurut Reuben, profil risiko melonjak tajam ketika pengguna tak lagi hanya "bertanya" pada AI, tetapi mulai "menyuruh" AI bertindak. Sebagai contoh, jika AI hanya memberi saran saham, risikonya kecil. Namun, jika AI diberi akses untuk melakukan transaksi saham secara otonom dan terjadi kesalahan sistem, kerugian finansialnya bisa berlipat ganda.

Bahaya Terselubung 'Shadow AI'

Satu lagi mimpi buruk bagi tim keamanan TI adalah fenomena Shadow AI. Ini terjadi ketika karyawan diam-diam menggunakan tools AI dari luar yang tidak disetujui perusahaan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Misalnya, seorang developer mengunggah source code rahasia perusahaan ke ChatGPT agar pekerjaannya cepat selesai, atau analis keuangan yang memasukkan data klien ke AI publik. Meski niatnya baik demi produktivitas, aktivitas ini membuat data rahasia perusahaan terekspos secara telanjang ke pihak eksternal.

Menjawab tantangan ini, Akamai telah mengakuisisi LayerX yang teknologinya kini disematkan sebagai Workforce Protector. Solusi ini tidak memblokir akses AI secara buta, melainkan membantu perusahaan mengontrol secara spesifik apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan karyawan saat menggunakan tools AI, sehingga inovasi tetap berjalan aman.

Keamanan Harus Dibangun Sejak Awal

Karena AI adalah ekosistem yang luas, Reuben menegaskan bahwa tidak ada satu produk "ajaib" yang bisa mengamankan semuanya. Pendekatan yang paling tepat adalah defense in depth atau sistem keamanan yang berlapis.

Akamai sendiri memanfaatkan jaringan edge terdistribusinya yang memantau lebih dari 30% trafik internet dunia setiap hari. Dari sini, mereka bisa mengumpulkan hampir dua terabyte data serangan per hari untuk dianalisis menjadi threat intelligence yang disalurkan ke sistem perlindungan DDoS, WAF, bot, hingga AI mereka.

Reuben berpesan, perusahaan tidak boleh mengulangi kesalahan fatal di era cloud, di mana sistem keamanan sering kali baru dipikirkan belakangan setelah infrastruktur jadi.

"Dalam AI, keamanan harus dirancang sejak awal bersama keputusan mengenai arsitektur, performa, dan biaya. Jangan sampai sistem keamanan baru dipikirkan kemudian hari," tegasnya.



(asj/asj)




Hide Ads