Sepanjang tahun 2025, Indonesia dihantam badai serangan siber dan anomali trafik dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni mencapai 5,5 miliar insiden. Angka ini meroket tajam hingga 714 persen atau tujuh kali lipat dibandingkan rata-rata tahunan pada periode 2020--2024.
Guna menjawab kondisi darurat krisis talenta keamanan siber (cyber security), Digital Solusi Grup (DSG) menggelar ajang Zero Day, sebuah kompetisi peretasan etis untuk menjaring, mengasah, sekaligus mencetak hacker spesialis sebagai penjaga kedaulatan digital nasional.
"Untuk mencetak talenta digital di bidang cyber security ini, tidak hanya peserta umum saja, kami juga berkolaborasi dengan sekolah dan kampus. Sinergi antara industri dan dunia pendidikan menjadi kunci dalam menciptakan talenta yang siap menghadapi tantangan nyata di masa depan," jelas Dean Diyantha Putrandi, CEO dan Founder Digital Solusi Grup, dalam keterangan yang diterima detikINET.
Dean memaparkan bahwa ajang Zero Day dirancang tidak sekadar sebagai perlombaan, melainkan sebagai wadah talent pool untuk mempertemukan talenta digital berbakat dengan kebutuhan industri secara langsung, di mana para peserta nantinya berpotensi dilibatkan dalam berbagai proyek strategis keamanan siber.
Proses kurasi talenta dilakukan secara ketat dan berlapis. DSG menyiapkan tantangan berbasis praktik nyata berupa Mini Games yang harus dipecahkan oleh peserta untuk membuktikan kemampuan teknis mereka.
Para peserta terbaik yang lolos dari fase Mini Games ini akan beradu keahlian pada kompetisi utama Zero Day yang siap digelar pada 28 Juni 2026 bertempat di Fakultas Ilmu Komputer (Filkom) Universitas Brawijaya, Malang.
Kompetisi final tersebut dibagi menjadi tiga arena utama:
- Scholar Battle: Kategori kelas pemula yang dikhususkan bagi pelajar dan mahasiswa.
- Open Arena: Kategori tingkat menengah yang terbuka untuk peserta umum.
- Zero Day Finals: Kategori pertempuran tingkat lanjut (advanced) khusus bagi talenta dengan skill retas tingkat tinggi.
Langkah DSG ini mendapat dukungan penuh dari pihak akademisi. Dekan Filkom Universitas Brawijaya, Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM, menegaskan bahwa kawah candradimuka bagi hacker muda dan putih ini sangat krusial di era transformasi digital.
"Komunikasi dan transaksi digital membuka ruang baru yang juga menghadirkan tantangan dalam hal keamanan. Event seperti ini penting sebagai wadah terkontrol bagi talenta, mahasiswa, dan siswa untuk mengasah kemampuan di bidang cyber security. Kami menyambut baik inisiatif ini sebagai langkah positif dalam menyiapkan sumber daya yang kompeten," pungkas Tri Astoto.
Simak Video "Video: Hati-hati! Ini Tandanya Jika Akun Gmail Sudah Diretas"
(asj/asj)