Cina Dituding Kirimkan Mata-Mata Cyber
- detikInet
Berlin -
Era perang dingin sudah usai, tapi bukan berarti tak ada lagi mata-mata. Belakangan Jerman bahkan menuding Cina mengirimkan mata-mata cyber. Jerman menuding pemerintah Cina berada di balik aksi mata-mata terhadap dokumen rahasia. "Menurut kami, pemerintah Cina ada di belakang serangan-serangan cyber tersebut. Ini didukung oleh intensitas, struktur, cakupan serangan dan target serangan yang mengarah ke pemerintah dan perusahaan Jerman," ujar Hans Elmar Remberg, wakil presiden dari German Office for the Protection of the Constitution, agen intelijen domestik.Pada bulan Agustus, media Jerman melaporkan bahwa pihak yang diduga kuat terkait dengan Cina telah menyerang pemerintah Jerman dengan program rahasia. Namun, pemerintah Beijing menangkis tudingan ini dan mengatakan bahwa semua bentuk serangan telah dilarang. Menurut Remberg ada perbedaan antara percobaan untuk mengumpulkan informasi dari kompetitor oleh perusahaan Cina dan upaya mata-mata yang dilakukan oleh negara. "Banyak orang yang menyebut serangan ini sebagai perang cyber yang dilakukan Cina," tambah Remberg.Ketertarikan Cina pada rahasia perusahaan dan pemerintah negara lain disinyalir sebagai salah satu cara untuk mewujudkan mimpi menjadi penguasa ekonomi dunia. Untuk mendapatkan informasi dari negara barat, seperti masalah politik, militer, strategi korporasi dan informasi penting lainnya guna meningkatkan teknologi secepat mungkin, Cina perlu melakukan serangan besar-besaran dengan teknologi tingkat tinggi. Serangan ini sering menggunakan program email berisi Trojan Horse.Seperti dikutip detikINET dari thestar, Rabu (24/10/2007), serangan terhadap pemerintah Jerman memiliki intensitas yang mencengangkan dan si penyerang tidak peduli kalau serangannya sedang dilacak. "Setiap satu atau dua hari, serangan tersebut terdeteksi," tutur Remberg. "Perwakilan kantor diplomat dan agen media Cina di Jerman mampu menyembunyikan penyebaran agen rahasia tersebut," tambahnya. Perusahaan Jerman yang melakukan joint venture dengan Cina juga berisiko. Namun, Cina bukan satu-satunya negara yang dituduh sebagai mata-mata. Remberg menuding Rusia juga melakukan hal yang sama. Tak puas menuding dua negara itu, Remberg juga menyebut Iran, Korea Utara, Pakistan dan Suriah sebagai negara yang tengah 'mencuri ilmu' teknologi dengan memadukan kekuatan sipil dan militer.
(wsh/wsh)