Lindungi File DBF Anda dari Kespo
- detikInet
Jakarta -
Di Indonesia file database dengan format dbf ternyata masih banyak yang menggunakan. Padahal virus lokal Kespo mengincar dan merusak file tersebut. Gimana dong?Alfons Tanudjaya, spesialis antivirus dari Vaksincom, mengaku sempat ragu kalau file dbf merupakan format database yang paling populer di Indonesia. Pasalnya format itu terbilang lawas dan kini telah tergantikan oleh format baru seperti Microsoft Access, MySQL, Oracle, dan SAP. "Memang benar kalau beberapa korporat besar menggunakan Oracle, MS Access dipergunakan oleh pengguna Windows dan MySQL menjadi standar de facto database webserver. Tetapi perusahaan-perusahaan menengah dan kecil rupanya memiliki kebijakan dan pandangan yang berbeda. Kalau database sudah bisa jalan dengan baik, untuk apa dirubah lagi?" tutur Alfons dalam pernyataan yang dikutip detikINET, Rabu (8/8/2007). Bahkan, menurut Alfons, pengguna format dbf bisa lebih banyak dari format yang lebih baru. "Dan secara persentase jumlah perusahaan, pengguna database .dbf ini mencapai lebih dari 50 % dan tersebar di seluruh Indonesia," ujar Alfons. Masalahnya, lanjut Alfons, kebanyakan database format lama itu tidak diberikan perlindungan yang memadai karena berada di komputer yang tidak terhubung ke internet. Padahal, papar Alfons, virus di Indonesia gemar menyebar melalui perangkat penyimpanan seperti USB Flash Drive. Memperbaiki dan MencegahSalah satunya adalah virus Kespo yang merusak file format dbf. "Bagi orang awam, kerusakan pada file .dbf ini ibarat dapat Tsunami pada server databasenya. Kabar baiknya, lagi-lagi ada veteran database yang meluangkan waktunya untuk membenarkan masalah ini," Alfons menjelaskan. Veteran yang dimaksud adalah seorang bernama Ismuddin yang membagi cara memperbaiki kerusakan pada file dbf akibat virus Kespo alias KSpoold. Mengutip Ismuddin, Alfons mengatakan perbaikan itu bisa dilakukan dengan menggunakan utility UltraEdit untuk menyalin header database yang tidak rusak ke database yang dirusak virus. Struktur database file baru (tidak rusak) harus sama dengan struktur yang rusak. Langkah ini dilanjutkan dengan memperbaiki file lewat utility Table Repair yang bisa diunduh dari Vaksin.com. Lewat utility ini jumlah Record dan ukuran file bisa diubah. "Bila File yg Anda Recover mempunyai Field Memo sedangkan file memonya tidak tersedia, ubah Table Flag menjadi Has CDX File," tulis Alfons. Jika file yang rusak cukup banyak dan berukuran besar, Alfons menyarankan korban virus untuk menghubungi info@vaksin.com. Agar tidak mudah terkena virus, selain menggunakan antivirus dan membuat back up, Alfons menyarankan pengguna untuk mengubah ekstensi file database yang digunakan. "Anda dapat mengganti ekstensi database dengan ekstensi khusus (apa saja), asalkan pada program aplikasi database nya di set untuk mencari nama file dengan ekstensi khusus tersebut, misalnya database 'data1.dbf' diganti dengan nama 'data1.ilu' atau menjadi 'data1.abc'," tandasnya.
(wsh/wsh)