Keamanan Siber, Komputasi Awan, dan Anggaran Triliunan Rupiah - Halaman 2

Kolom Telematika

Keamanan Siber, Komputasi Awan, dan Anggaran Triliunan Rupiah

Alfons Tanujaya - detikInet
Selasa, 02 Nov 2021 08:45 WIB
Hacker Rusia Berhasil Membobol Jaringan Komunikasi Pemerintah Jerman
Foto: DW (News)

Server fisik vs cloud, mana lebih aman?

Mengamankan data tidak identik dengan anggaran, anggaran hanya merupakan salah satu faktor mengamankan data namun anggaran yang besar yang dapat digunakan untuk membeli piranti lunak dan perangkat yang mahal tidak serta merta akan mengamankan dari peretasan dan kebocoran data.

Ibaratnya anda membeli mobil mahal yang secara mesin jauh lebih cepat akselerasinya dari bis malam tetapi dalam prakteknya di jalur antar kota akan sangat sulit bagi anda untuk berpacu mengalahkan supir bis AKAP yang sudah terlatih dan setiap hari pekerjaannya melahap jalanan antar kota.

Keamanan situs dan jaringan lebih ditentukan oleh sumber daya yang mumpuni dan kedisiplinan untuk menjalankan langkah yang diperlukan dalam mengamankan data sesuai standar yang telah ditetapkan, walaupun menggunakan piranti yang lebih murah seperti komputasi awan dan outsourcing.

Perkembangan layanan outsourcing dan komputasi awan di dunia sekuriti memberikan pilihan yang efisien, murah dan aman. Perlu dipahami bahwa outsourcing bukan berarti lepas tangan dan menyerahkan seluruh pengelolaan sekuriti kepada pihak ketiga. Bukan seperti naik sepeda lepas tangan dan tinggal gowes saja. Pengelola data atau jaringan tetap harus mengerti dan menjadi jendral dalam menjalankan pengamanan sekuriti yang berada di bawah pengelolaannya.

Sebagai contoh, integrasi komputasi awan ke dalam teknologi pengamanan antivirus tradisional memberikan manfaat yang besar dimana teknologi antivirus cloud NGAV seperti Webroot memangkas ukuran program antivirus yang mencapai puluhan sampai ratusan MB menjadi hanya 5 MB sehingga sangat ringan dan tidak membebani sistem komputer yang dilindunginya.

Integrasi cloud juga menghapus kebutuhan server antivirus fisik sehingga menghemat biaya untuk mengadakan server antivirus namun sebaliknya perlindungan yang diberikan malah lebih mumpuni karena pengelolaan antivirus tidak lagi dilakukan oleh server antivirus tetapi dilakukan menggunakan teknologi cloud yang dapat dikelola dari belahan dunia manapun.

Dibandingkan harus mengelola server fisik di jaringan yang di proteksi. Hal ini jelas jauh lebih andal, cepat dan tangguh dibandingkan antivirus konvensional.

Banyak orang yang beranggapan kalau data yang disimpan di jaringan awan lebih rentan dibandingkan data yang disimpan di jaringan lokal. Pandangan seperti ini yang harus diluruskan karena keamanan data tidak ditentukan oleh lokasi penyimpanan data dan sifat data itu maya berbeda dengan aset fisik seperti motor atau pasangan anda yang jika anda bisa lihat maka akan lebih aman dibandingkan tidak terlihat.

Yang menentukan keamanan data adalah tindakan yang dilakukan untuk melindungi data itu sendiri seperti penerapan kredensial yang baik dan benar, pengamanan server sesuai standar pengamanan, implementasi OTP One Time Password untuk menjaga kredensial dari pencurian.

Mengelola server fisik sendiri yang terhubung ke internet justru malah lebih rumit dan rentan dibandingkan menggunakan layanan server cloud karena pengelolanya harus tahu cara mengamankan server fisik tersebut dari ancaman peretasan.

Pengguna server cloud tetap bisa menggunakan sumberdaya yang dibutuhkan dan hanya membayar sesuai dengan sumber daya yang digunakannya tanpa perlu pusing dengan biaya listrik, instal OS server, mati lampu dan pengamanan server fisik cloud itu sendiri dimana pengelolaannya dikerjakan oleh penyedia layanan cloud yang sudah berpengalaman seperti AWS, Google, Biznet Gio atau Microsoft.

*) Alfons Tanujaya adalah ahli keamanan cyber dari Vaksincom. Dia aktif mendedikasikan waktunya memberikan informasi dan edukasi tentang malware dan cyber security bagi komunitas IT Indonesia.

(asj/afr)