Awas! Kejahatan Siber Makin Merajalela di Telegram

Awas! Kejahatan Siber Makin Merajalela di Telegram

Virgina Maulita Putri - detikInet
Senin, 20 Sep 2021 22:37 WIB
LONDON, ENGLAND - MAY 25:  A close-up view of the Telegram messaging app is seen on a smart phone on May 25, 2017 in London, England. Telegram, an encrypted messaging app, has been used as a secure communications tool by Islamic State. (Photo by Carl Court/Getty Images)
Kejahatan Siber Makin Merajalela di Telegram Foto: Carl Court/Getty Images
Jakarta -

Aplikasi messaging Telegram menjagokan privasi dan enkripsi sebagai fitur utamanya. Tapi fitur-fitur ini justru disalahgunakan oleh penjahat siber yang makin tumbuh subur di Telegram.

Menurut laporan dari perusahaan keamanan siber Cyberint untuk Financial Times, hacker beramai-ramai pindah dari dark web ke Telegram untuk menjual dan berbagi data pengguna yang dicuri atau bocor. Telegram dipilih karena mudah digunakan dan tidak dimoderasi dengan ketat.

Aplikasi besutan Pavel Durov ini juga memiliki fitur secret chats yang menggunakan enkripsi end-to-end sebagai fitur privasi tambahan. Meski grup Telegram tidak memiliki fitur yang sama, pengguna tetap harus memiliki link atau undangan untuk bisa bergabung. Grup Telegram juga bisa diisi hingga 20.000 anggota.

Fitur-fitur ini yang membuat Telegram dilirik oleh penjahat siber. Analis Cyberint Tal Samra mengatakan penggunaan Telegram untuk aktivitas kejahatan siber meningkat hingga lebih dari 100%.

"Layanan pesan terenkripsinya semakin populer di kalangan pelaku ancaman siber yang melakukan aktivitas penipuan dan menjual data curian... karena lebih nyaman digunakan ketimbang dark web," kata Samra, seperti dikutip dari Mashable, Senin (20/9/2021).

Perpindahan penjahat siber ke Telegram ternyata turut dipengaruhi oleh WhatsApp. Telegram dan WhatsApp sebelumnya dipilih oleh pengguna karena menawarkan tingkat privasi yang lebih tinggi berkat enkripsi end-to-end.

Tapi WhatsApp belum lama ini mengeluarkan kebijakan privasi terbarunya yang kontroversial. Penggunanya pun banyak yang pindah ke Telegram, termasuk para penjahat siber.

Dalam laporannya, Cyberint menemukan istilah hacker 'Email:pass' dan 'Combo' semakin banyak digunakan di Telegram, bahkan meningkat hingga empat kali lipat di tahun 2020 dan 2021.

Mereka juga menemukan channel publik bernama 'combolist' yang digunakan untuk menjual dan berbagi data pribadi curian. Channel tersebut pernah memiliki sekitar 47.000 anggota dan saat ini telah dihapus oleh Telegram setelah menerima laporan dari Financial Times.

Beberapa channel data dump di Telegram berisi sekitar 300.000 sampai 600.000 kombinasi email dan password untuk layanan gaming dan email. Cyberint juga menemukan channel yang digunakan untuk menjual informasi keuangan, dokumen pribadi, panduan hacking, dan lain-lain.

Dalam keterangan resminya, Telegram mengatakan mereka memiliki kebijakan untuk menghapus data pribadi yang dibagikan tanpa izin. Telegram juga mengklaim para moderator mereka telah menghapus 100.000 komunitas publik yang melanggar aturan mereka setiap harinya.



Simak Video "Telegram Sambut 70 Juta Pengguna Baru Usai WhatsApp Down"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/fay)