Situs Taliban Menghilang dari Internet

Situs Taliban Menghilang dari Internet

Josina - detikInet
Sabtu, 21 Agu 2021 07:38 WIB
ilustrasi komputer
Foto: unsplash
Jakarta -

Situs resmi Taliban dilaporkan telah menghilang dari internet. Situs ini kerap mempublikasikan berbagai kegiatan dan pesan kepada orang-orang di dalam ataupun di luar Afghanistan.

Dilansir detiKINET dari Washington Post, situs tersebut mendadak offline pada hari Jumat. Belum diketahui apa penyebab atau pihak yang patut disalahkan atas hilangnya situs tersebut.

Situs tersebut sebelumnya memiliki perlindungan dari CloudFlare, sebuah perusahaan yang berbasis di San Francisco yang membantu situs web mengirimkan konten dan bertahan dari serangan siber.

Namun belum ada tanggapan dari CloudFlare apakah mereka masih melindungi situs Taliban tersebut. Situs Taliban sendiri memiliki lima versi dengan berbeda bahasa mulai dari Pashto, Dari, Arab, Urdu hingga Inggris.

SITE Intelligence Group yang memantau ekstremisme online mengatakan banyak grup WhatsApp yang digunakan oleh Taliban juga telah ditutup pada hari Jumat.

WhatsApplayanan obrolan terenkripsi yang digunakan secara luas di sebagian besar dunia yang dimiliki oleh Facebook telah melarang akun resmi Taliban dari layanannya.

Juru bicara WhatsApp Alison Bonny menolak berkomentar apakah perusahaan telah mengambil tindakan baru terhadap Taliban pada hari Jumat kemarin , namun ia kembali mengulangi pernyataan perusahaan Facebook sebelumnya tentang masalah ini secara umum.

"Kami berkewajiban untuk mematuhi undang-undang sanksi AS. Ini termasuk melarang akun yang tampaknya mewakili diri mereka sendiri sebagai akun resmi Taliban. Kami mencari lebih banyak informasi dari otoritas AS yang relevan mengingat situasi yang berkembang di Afghanistan." ujarnya.

Seperti diketahui Taliban menguasai Afganistan sejak Minggu (15/8/2021). Taliban memasuki Kabul setelah presiden sebelumnya Ashraf Ghani meninggalkan negeri itu ke luar negeri tanpa perlawanan dari militer Afghanistan.

Ini menyebabkan evakuasi besar-besaran warga asing mengingat situasi tak kondusif. AS, Inggris, Jerman hingga Jepang telah menutup kedutaan dan memulangkan warga negaranya.

Meski demikian, kelompok Taliban disebut tidak akan dapat menguasai aset dan dana milik negara itu. Pasalnya akses menuju sebagian besar uang tunai dan stok emas negara tidak diberikan oleh Bank Sentral Afghanistan.



Simak Video "Pendiri Taliban Bantah Diisukan Terbunuh Gegara Bentrok Internal"
[Gambas:Video 20detik]
(jsn/agt)