Ransomware Bakal Ditangani Seperti Terorisme

Ransomware Bakal Ditangani Seperti Terorisme

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Sabtu, 05 Jun 2021 10:12 WIB
Hacker di Indonesia bobol puluhan ribu data pemohon bansos AS, raup hampir setengah miliar rupiah
Foto: BBC Magazine
Jakarta -

Serangan ransomware di Amerika Serikat semakin sering terjadi dan seringkali berdampak sangat luas. Karena itulah Kementerian Hukum AS kini akan menangani serangan ransomware seperti sebuah aksi terorisme.

Dilansir Reuters, Sabtu (5/6/2021), seorang sumber resmi dari Kementerian Hukum AS menyebutkan kalau mereka akan meningkatkan prioritas penanganan serangan ransomware seperti sebuah aksi terorisme.

Langkah ini diambil setelah sebelumnya terjadi beberapa serangan ransomware yang berdampak luas. Seperti serangan terhadap perusahaan Colonial Pipeline, yang jaringan pipanya menjadi salah satu tulang punggung distribusi bahan bakar minyak di AS.

Instruksi dari Kementerian Hukum AS itu sudah dikirimkan ke seluruh kantor penegak hukum di AS. Dalam instruksi disebutkan kalau semua informasi terkait investigasi ransomware harus dikoordinasikan secara sentral dari Washington DC.

"Ini adalah proses khusus untuk memastikan kami bisa bisa memantau semua kasus ransomware di mana pun terjadinya kasus tersebut, agar bisa menghubungkan antara pelaku dan kemudian bisa menyelidiki jaringannya," ujar John Carlin, principle associate deputy attorney general di Kementerian Hukum AS.

Seperti diberitakan sebelumnya, perusahaan asal Amerika Serikat bernama Colonial Pipeline terpaksa menyetop operasional perusahaannya setelah menjadi korban dari ransomware.

Colonial Pipeline adalah operator pipa minyak paling besar di AS, yang bertanggung jawab atas setengah dari pasokan bahan bakar minyak (BBM) untuk kawasan East Coast, dan serangan ransomware ini disebut sebagai serangan digital yang paling mengganggu dalam sejarah.

Pasalnya jika penyetopan operasi ini berlangsung terlalu lama maka akan mengganggu pasokan bahan bakar di banyak negara bagian AS, yang akan berdampak pada meningkatnya harga BBM di kawasan tersebut.

Colonial tiap harinya mengirimkan 2,5 juta barrel bensin dan bermacam BBM lain lewat pipanya yang membentang sepanjang 8.850 km dari Gulf Coast ke bagian timur dan selatan AS. Mereka juga menjadi penyuplai BBM untuk beberapa bandara besar di AS, termasuk Hartsfield Jackson Airport di Atlanta, bandara tersibuk di dunia.

Pihak yang ada di balik serangan ini kabarnya adalah sebuah sindikat bernama 'DarkSide', yang dikenal dengan bermacam serangan ransomware-nya. Colonial pun sudah meminta bantuan pemerintah AS serta perusahaan keamanan siber seperti FireEye untuk menyelesaikan masalah ini.



Simak Video "Manufaktur Ramai Diserang Hacker, Diduga Sasar Produksi Vaksin Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/rns)