WhatsApp Luruskan Salah Paham Inti Kebijakan Privasi Barunya

WhatsApp Luruskan Salah Paham Inti Kebijakan Privasi Barunya

Aisyah Kamaliah - detikInet
Jumat, 19 Feb 2021 08:28 WIB
Ilustrasi WhatsApp
Maksud dari kebijakan privasi baru WhatsApp beberapa kali disalahpahami. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET
Jakarta -

Kebijakan privasi baru dari WhatsApp sering disalahartikan. Meski sudah dijelaskan masih ada saja yang salah paham dan beranggapan bahwa WhatsApp sudah tidak menjadi tempat yang aman lagi karena berbagi data dengan Facebook.

Supaya tidak terjadi kesalahpahaman, WhatsApp APAC Communications Director Sravanthi Dev menjelaskan dalam konferensi pers beberapa waktu lalu bahwa kebijakan privasi baru WhatsApp ini berkaitan dengan WhatsApp API.

Sebagai gambaran, WhatsApp memiliki tiga jenis pilihan. yakni yang sering digunakan untuk chat antar pribadi, WhatsApp Business untuk bisnis skala kecil, dan WhatsApp Business API yang digunakan untuk perusahaan menengah dan besar. Contohnya adalah WhatsApp yang dimiliki Singapore Airlines atau Indosat Ooredoo.

Nah, WhatsApp API ini, karena mereka cenderung diserbu ribuan pesan yang didapatkan setiap harinya, otomatis mereka membutuhkan hosting yang memadai. Di sinilah, Facebook menawarkan opsi kepada perusahaan untuk memakai hosting dari Facebook.

"WhatsApp menawarkan pelanggan perusahaan untuk mengelola pesan sendiri atau memakai hosting dari Facebook. Kalau memang sudah memakai hosting lain, pesan antara customer dengan perusahaan masih dienkripsi, akan tetapi sudah tidak bisa dikatakan secara end-to-end," jelas Sravanthi.

Namun kembali lagi, WhatsApp sebisa mungkin ingin memberikan banyak opsi untuk pelanggannya. Sehingga pilihannya jelas antara memakai hosting dari Facebook atau memakai dari pihak ketiga lainnya.

"Apakah Facebook bisa mengakses percakapan? Tidak, akan tetapi Whatsapp akan memberikan notifikasi yang menjelaskan apakah WhatsApp API memakai hosting service pihak ketiga lain atau tidak, sehingga akan ada notifikasi nantinya mana yang terenkripsi end-to-end dan yang tidak," tegasnya.

Lebih lanjut, apabila perusahaan yang memakai WhatsApp API Business memakai layanan dari pihak lain, WhatsApp akan tetap memantau sejauh apa keamanan yang ditawarkan oleh layanan tersebut. Diakui WhatsApp bahwa pihak ketiga lain yang bertugas mengelola data bisa menganalisis data yang ada, namun bukan berarti mereka bisa membaca pesan-pesan pengguna kepada WhatsApp API.

WhatsApp berkomitmen akan melakukan pembaharuan pada kebijakan privasi pengguna secara berkala. Tidak ingin sembunyi-sembunyi, justru dengan komunikasi ini WhatsApp ingin menciptakan transparansi pada customer.

"Dengan ini, user bisa memilih apakah mau berbicara dengan WhatsApp API atau tidak. Kalau tidak ya sudah. Intinya pengguna punya kontrol penuh," ucapnya.

WhatsApp pun menolak dikatakan memaksa pengguna untuk menyetujui perihal kebijakan privasi baru ini. Malahan, WhatsApp bertujuan ingin memberikan kejelasan dan rasa aman kepada para pengguna.

"Kenapa harus di terima kebijakannya? Mungkin ada orang yang tidak ingin bicara dengan WhatsApp API, tapi mungkin mereka akan melakukannya nanti di masa depan. Kita tidak memaksa orang, kamu bisa bicara dengan orang-orang seperti biasa, tapi kami memberikan pilihan tentang bagaimana kamu menggunakan WhatsApp. Saya pikir itu adil," tegas Sravanthi.



Simak Video "Ini Data yang Dibagikan WhatsApp ke Facebook"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/ask)