Obama Sampai Jeff Bezos Kena Hack, Keamanan Siber Masih Dianggap Enteng

Obama Sampai Jeff Bezos Kena Hack, Keamanan Siber Masih Dianggap Enteng

Aisyah Kamaliah - detikInet
Rabu, 09 Des 2020 18:09 WIB
PARIS, FRANCE - JUNE 27:  Bill Gates, the co-Founder of the Microsoft company and and co-Founder of the Bill and Melinda Gates Foundation, delivers a speech during a press conference at the Solidays festival, on June 27, 2014 in Paris, France. Bill Gates visited the 16th edition of the Solidays music festival, dedicated to the fight against AIDS.  (Photo by Thierry Chesnot/Getty Images)
Bill Gates salah satu tokoh yang terkena serangan hacker (Foto: Getty Images/Thierry Chesnot)
Jakarta -

Ada banyak akun personal sampai bisnis seperti akun Barrack Obama, Jeff Bezos, dan Bill Gates kena hack. Ini menandakan keamanan siber masih dianggap enteng.

Vitaly Kamluk, Director of Global Research and Analysis (GReAT) untuk Asia Pasifik di Kaspersky dalam acara 'Kaspersky APAC Cyber Security Weekend', Selasa (8/12/2020), mengatakan bahwa digital reputasi adalah hal yang kerap terabaikan. Padahal, ini adalah kunci untuk menjaga entah kepercayaan publik sampai keamanan data yang disimpan baik individu maupun perusahaan.

"Jeff Bezos, Barrack Obama, Kim Kardashian, Joe Biden, Bill Gates. Banyak yang selebriti yang akunnya kena hack dan mengirimkan pesan, sedikit memalukan. Masalahnya, mereka percaya cyber security yang mereka miliki selalu sempurna," ucapnya.

Ia pun menyebut kebocoran data yang dialami perusahaan besar yakni Yahoo 3,5 miliar data, Sina Weibo 538 juta data, Marriot 500 juta data, Tokopedia 91 juta, hingga Lazada 13 juta data. Dampak ini tidak hanya pada pelanggan yang pergi, namun juga berisiko pada hubungan dengan pemerintah yang terganggu. Vitaly turun menyampaikan bahwa setiap harinya, data terjual di pasar dark web dengan penawaran yang signifikan.


Ancaman ransomware

"Ini akan jadi serius dan ini adalah masalah nyata di dunia. Ini (serangan ransomware) bisa membocorkan rahasia internal. Ransomware 2.0 berbeda dari sebelumnya," tutur Vitaly.

Vitaly menjelaskan modus operandi target ransomware. Infiltrasi dan pencurian data dilakukan kemucian diunggah ke cloud privat. Setelah itu, data dienkripsi, kemudian data dipublikasikan dengan tujuan mempermalukan.

"Digital reputation secara individual atau bisnis berdampak pada keberlanjutan bisnis, karenanya harus dilakukan pengamanan dengan segera,"

Ia pun mengatakan langkah yang bisa dilakukan pertama adalah deteksi untuk tindakan pencegahan dengan cara memastikan endpoint security, URL filtering, dan DLP. Selanjutnya adalah lakukan interupsi pada usaha enkripsi data yang dilakukan kriminal. Terakhir dan yang terpenting adalah melakukan respon PR entah dengan menuliskan rilis dan menjalankan aksi legal dengan melaporkan kejadian ini pada polisi.

"Satu yang jadi catatan, jangan pernah berkompromi dengan penjahat. Ujungnya akan selalu ada jebakan," tandasnya.



Simak Video "Sistem Transportasi di New York Dihack, Negara-negara Ini Dicurigai"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)