Duh! Data Pribadi Dicolong dan Dijual Murah di Pasar Gelap

Duh! Data Pribadi Dicolong dan Dijual Murah di Pasar Gelap

Agus Tri Haryanto - detikInet
Selasa, 08 Des 2020 14:46 WIB
Hacker Rusia Berhasil Membobol Jaringan Komunikasi Pemerintah Jerman
Foto: DW (News)
Jakarta -

Maraknya kebocoran data pribadi yang terjadi, tentunya sangat mengecewakan, karena privasi kita diperjualbelikan tanpa izin dengan harga murah. Sebenarnya, berapa sih harga data pribadi yang bocor ke internet ini?

Menjawab pertanyaan tersebut, Kaspersky melakukan penelitian terkait kisaran harga data pribadi yang diperdagangkan di pasar gelap alias darkweb. Rupanya akun Paypal dijual USD 50 atau setara Rp 708 ribuan yang paling mahal di antara data pribadi lainnya.

Sedangkan untuk detail kartu kredit minimal dibanderol USD 6 (Rp 84 ribu), identitas berupa nama, tanggal lahir, email, selfie dengan dokumen USD 40 (Rp 566 ribuan), dan nomor HP justru dihargai USD 0,5 (Rp 7 ribuan).

Harga data pribadi yang dijual di pasar gelap.Harga data pribadi yang dijual di pasar gelap. Foto: Kaspersky

Untuk mendapatkan daftar kisaran daftar harga pribadi itu, Kaspersky menganalisis penawaran aktif di 10 forum dan pasar darknet internasional. Penelitian itu menunjukkan bahwa akses data pribadi dapat dimulai dengan harga USD 0,5 untuk sebuah data pribadi. Sebagai catatan, itu tergantung daya tawar penjual dan pembeli.

Kaspersky menyebutkan bahwa informasi pribadi masih tetap diminati hampir satu dekade terakhir, terutama data kartu kredit, akses perbankan, dan layanan pembayaran elektronik dengan harga yang masing-masing tidak berubah dalam beberapa tahun terakhir.

Namun untuk saat ini muncul data baru yang diperjualbelikan, misalnya catatan medis peribadi dan selfie dengan dokumen pribadi yang dipatok mencapai USD 40.

Perusahaan antivirus ini mengatakan pertumbuhan skema jumlah foto dengan dokumen di tangan juga mencerminkan tren dalam 'permainan cybergood'. Penyalahgunaan data ini berpotensi menimbulkan konsekuensi cukup signifikan, seperti pengembalian nama atau penggunaan layanan korban berdasarkan identitasnya.

Konsekuensi data pribadi yang dijual di pasar gelap ini bisa dimanfaatkan penjahat untuk pemerasan, penipuan dan skema phising, hingga pencurian uang secara langsung. Adapun data jenis data terbaru, misalnya akun ke pribadi atau database password, bisa disalahgunakan untuk keuntungan finansial, tapi juga dapat merugikan reputasi dan jenis kerusakan sosial, termasuk doxing.

"Dalam beberapa tahun terakhir banyak area kehidupan kita telah menjadi digital - dan beberapa di antaranya, seperti medis kita, misalnya, termasuk sebagai informasi pribadi. Seperti yang kita lihat dengan meningkatnya jumlah insiden kebocoran data, hal ini menyebabkan lebih banyak risiko bagi pengguna," tutur Dmitry Galov, peneliti keamanan di Kaspersky's GReAT dalam siaran persnya.

Namun, Kaspersky juga melihat perkembangan positif, di mana banyak organisasi mengambil langkah ekstra untuk mengamankan data penggunanya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menyoroti betapa pentingnya untuk menyadari bahwa data pribadi sebenarnya diminati dan dapat digunakan untuk tujuan berbahaya sekalipun kalian tidak memiliki banyak uang.

"Ini tidak berarti bahwa kita harus menghapus dan menutup akun media sosial kita. Ini semua tentang memahami konsekuensi dan risiko potensial dan bersiap yang tepat untuk itu. Tindakan terbaik terkait data Anda adalah: ketahui apa yang mereka ketahui, hapus apa yang Anda bisa, dan kendalikan informasi tentang Anda secara online. Sesederhana itu, namun tetap membutuhkan usaha," ungkap Pakar Privasi di Kaspersky Vladislav Tushkanov.

>>>>> Halaman berikutnya tips dari Kaspersky agar data pribadi kalian tidak mudah bocor