Muslim Pro, Tuduhan Jual Data dan Ancaman Blokir Kominfo - Halaman 3

Round-up

Muslim Pro, Tuduhan Jual Data dan Ancaman Blokir Kominfo

Tim detikINET - detikInet
Sabtu, 21 Nov 2020 08:00 WIB
Muslim Pro
Foto: Adi Fida Rahman/detikINET

Tindakan ini mungkin juga termasuk menganalisis data agar kami dapat lebih memahami kebiasaan pengguna dan meningkatkan fungsi layanan secara menyeluruh. Data lokasi digunakan untuk menghitung ketepatan waktu salat, arah Kiblat, dan juga fitur lainnya. Tindakan tersebut juga dilakukan untuk membantu merencanakan dan merancang berbagai fitur, seperti halnya dalam meningkatkan pengalaman pengguna secara keseluruhan.

Kami sepenuhnya berkomitmen untuk menghormati dan melindungi privasi pengguna sesuai dengan undang-undang dan peraturan privasi data global seperti GDPR dan CCPA. Kami juga selalu menerapkan langkah-langkah pengamanan standar industri untuk memastikan seluruh data terjaga dan aman. Ini karena kepercayaan jutaan umat dan para pengguna setiap hari di Muslim Pro adalah segalanya bagi kami.

Untuk info lebih detil, silakan mengacu pada Kebijakan Privasi kami di sini.

2. Mengapa Muslim Pro perlu berbagi data dengan para mitra?

Seperti halnya aplikasi lainnya, mengembangkan aplikasi religius yang berkualitas tentunya membutuhkan waktu dan sumber daya. Kami perlu berkolaborasi dengan mitra-mitra teknologi terpilih agar dapat terus memberikan layanan terbaik bagi para pengguna dan mengembangkan kualitas aplikasi.

Bagi aplikasi seperti Muslim Pro, data yang dibagi kepada para mitra digunakan untuk tujuan umum seperti periklanan, di mana ini adalah sumber pemasukan utama agar kami dapat memberikan layanan gratis kepada para pengguna. Kami melakukan hal ini sepenuhnya dengan mematuhi semua hukum dan aturan yang berlaku. Kami juga menerapkan kebijakan tata kelola data yang ketat untuk memastikan data pengguna selalu terlindungi.

3. Apakah Muslim Pro berbagi data pribadi pengguna dengan mitranya?

Dalam kondisi apapun kami tidak berbagi informasi pribadi sensitif para pengguna, seperti halnya nama, nomor telepon, atau email. Data yang dibagi bersama para mitra adalah data anonim, yang berarti data tersebut bukanlah data yang terkait dengan individu tertentu.

4. Siapa pihak ketiga yang berbagi data dengan Muslim Pro?

Kami bekerja sama dengan berbagai pihak ketiga terpilih dalam industri ini, termasuk sosial media, analisis data, dan mitra periklanan yang secara umum membantu mengembangkan produk dan layanan kami - tentunya semua dilakukan dengan konsen (izin) dari para pengguna kami.

Muslim ProMuslim Pro Foto: Adi Fida Rahman/detikINET

5. Apakah data saya aman di tangan Muslim Pro?

Ya. Kami sepenuhnya berkomitmen untuk menghormati dan melindungi privasi pengguna sesuai dengan undang-undang dan peraturan privasi data global seperti GDPR dan CCPA.

Kami juga selalu menerapkan langkah-langkah pengamanan standar industri untuk memastikan seluruh data terjaga dan aman. Ini karena kepercayaan jutaan umat dan para pengguna setiap hari di Muslim Pro adalah segalanya bagi kami.

Kami akan terus memastikan keamanan data, termasuk juga melalui audit oleh para pakar dari pihak ketiga yang independen.

Kominfo Tak Segan Blokir Muslim Pro

Kasus dugaan jual-beli data pengguna ke militer AS, membuat Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bergerak meminta penjelasan langsung dari aplikasi Muslim Pro. Bila tidak ada penjelasan, Kominfo mungkin akan memblokir Muslim Pro sesuai aturan yang berlaku.

Disampaikan Juru Bicara Kementerian Kominfo Dedy Permadi bahwa pemerintah telah mengirimkan surat kepada Muslim Pro pada Selasa (19/11). Aplikasi besutan Bitsmedia itu diberi waktu tiga hari untuk memberikan klarifikasinya ke pemerintah RI.

"Kementerian Kominfo hari ini (Selasa, 19 November 2020-red) mengirimkan surat kepada pihak Muslim Pro untuk meminta penjelasan terkait dugaan insiden penjualan data pribadi penggunanya. Jawaban atas surat tersebut akan menentukan langkah Kominfo selanjutnya," ujar Dedy kepada detikINET.

"Jika pihak Muslim Pro tidak membalas dalam 3X24 jam, maka Kementerian Kominfo akan melakukan pemutusan akses (blokir) untuk mencegah potensi insiden yang lebih besar," tegas Dedy.

(afr/afr)