Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Virus Lokal Berpotensi Lebih Jahat

Virus Lokal Berpotensi Lebih Jahat


- detikInet

Jakarta - Spesialis Antivirus PT Vaksincom, Alfons Tanujaya mengatakan, meski virus lokal terbilang belum terlalu 'jahat' karena hanya sekadar menyembunyikan file yang terinfeksi, tapi virus lokal berpotensi untuk hal yang lebih jahat lagi."Ada beberapa pengaduan kasus seperti hilangnya skripsi yang disangka hilang. Padahal sebenarnya skripsi itu hanya disembunyikan atau diubah namanya," tutur Alfons di sela-sela peluncuran paket antivirus Norman untuk Sekolah dan Warnet di Wisma Purna Batara Jakarta, Rabu (21/9/2005). "Untungnya file itu belum di-delete," imbuhnya. Padahal menurut Alfons, para pembuat virus bisa saja membuat virus yang lebih jahat, misalnya tidak hanya menyembunyikan file, tapi benar-benar menghapusnya. "Kita harap mereka nggak buat virus seperti itu," harap Alfons.Virus lokal, menurut Alfons, bisa lebih jahat lagi sesuai dengan tujuan sang pembuat virus. "Apa yang bisa dibuat dengan software pemrograman, bisa juga dipakai untuk membuat virus. Tidak ada limitasinya," ujar Alfons. "Virus lokal saat ini mayoritas masih dibuat dengan bahasa pemrograman Visual Basic. Tujuan dari virus itu saat ini hanya untuk mengecoh pihak yang filenya terinfeksi," tambahnya.Menurut Alfons, virus lokal terbaru yang beredar ialah virus patahati.A. Tapi yang paling bahaya untuk virus lokal masih virus Kangen yang sudah mencapai varian ke-8. Virus-virus lokal lain yang dianggap berbahaya oleh Vaksincom antara lain Kumis, Tabaru (yang menggunakan nama presenter TV Riyanni Jangkaru-red), Lavist, dan Fawn (win.32.anf). Sedangkan virus-virus impor yang sedang berjaya di Indonesia antara lain seperti Zotob, Mytob dan Sasser.Tawarkan Paket Hemat Antivirus Untuk Sekolah dan WarnetAlfons mengatakan, maraknya serangan virus yang meningkat cepat pada 2005, dianggap menyulitkan warnet dan institusi pendidikan sekolah. Padahal menurut dia, kedua lembaga itu merupakan ujung tombak informasi."Taruhlah dari 2 juta pihak yang terhubung ke internet, warnet dan sekolah merupakan porsi terbesar 1,6 juta," ujar Alfons.Bukan berita baru apabila warnet sangat rentan akan serangan virus, demikian pula dengan sekolah. Menurut Alfons, mayoritas pengguna komputer yang baru tidak paham akan bahaya virus komputer dan penyebarannya. Apakah penyebarannya melalui jaringan ataupun perpindahan data dari media penyimpan portabel seperti USB Drive dan disket.Banyaknya ancaman virus lokal dan impor yang meningkat cepat sejak awal 2005, menurut Alfons, membuat warnet dan sekolah tidak dapat menjangkau layanan antivirus yang memadai. Menurutnya, sekolah dan warnet hanya menggunakan antivirus untuk komputer tunggal, bukan dengan antivirus jaringan. Padahal, lanjutnya, keduanya merupakan ujung tombak informasi di Indonesia. Oleh sebab itu, Vaksincom menawarkan solusi antivirus yang relatif murah untuk warnet yakni SOW (Save Our Warnet) dan SOS (Save Our School) untuk sekolah. Penawaran itu dibanding dengan harga jual untuk perusahaan korporat, dikatakan lebih murah dengan potongan harga sebesar 90 persen. Penawaran itu diklaim Vaksincom sebagai wujud kepedulian sosial. Paket antivirus Norman Antivirus Control Business yang ditawarkan Vaksincom dijual dengan harga Rp 1.800.000 dan bisa dicicil selama 4 kali selama 4 bulan sebesar Rp 500.000 per bulannya. Sedangkan harga yang ditawarkan untuk korporat sebesar Rp 17.500.000, meski sama-sama untuk komputer jaringan 50 komputer. (rouzni/)




Hide Ads