Selasa, 13 Nov 2018 16:01 WIB

Penipu Bitcoin Hantui Twitter, Catut Nama Elon Musk

Virgina Maulita Putri - detikInet
Nama Elon Musk dicatut dalam kasus penipuan Bitcoin di Twitter (Foto: Kyle Grillot/Reuters) Nama Elon Musk dicatut dalam kasus penipuan Bitcoin di Twitter (Foto: Kyle Grillot/Reuters)
Jakarta - Penipu bitcoin kembali beraksi di Twitter. Kali ini mereka berpura-pura menjadi pendiri Tesla dan SpaceX, Elon Musk.

Penipu tersebut bekerja dengan cara meretas sebuah akun Twitter yang sudah diverifikasi dan memiliki ribuan follower. Kemudian mereka mengganti nama dan avatarnya sesuai dengan akun resmi milik Musk agar tampak meyakinkan.




Akun-akun yang diretas tersebut di antaranya milik merek fashion @FarahMenswear dan perusahaan IT @capgemini_aust. Si penipu, menggunakan akun itu, memposting cuitan bahwa mereka memberikan 10.000 bitcoin dan pengguna Twitter yang ingin berpartisipasi dalam giveaway ini pun diminta mengirimkan cryptocurrency milik mereka.

Penipu ini tampaknya juga membeli iklan di platform media sosial tersebut untuk mempromosikan cuitannya ke lebih banyak pengguna.



Terindikasi tak sedikit Twitter yang terkecoh. Salah satu akun yang pernah diretas, @PantheonBooks, dilaporkan mendapat bitcoin senilai USD 180.000 (Rp 2,6 miliar) dengan menipu pengguna untuk memberikan bitcoin mereka dan menjanjikan keuntungan yang besar.

Tautan bitcoin yang diberikan oleh akun @FarahMenswear yang diretas juga mencatat 100 transaksi bitcoin dalam beberapa jam dan mendapatkan 5,84 bitcoin (Rp 549 juta).

Dalam keterangan resminya, Twitter menegaskan bahwa meniru identitas pengguna lain merupakan pelanggaran terhadap kebijakan mereka. Twitter pun mengatakan telah memperbaiki cara mereka untuk menangani penipuan cryptocurrency di platform-nya.




"Penipu terus mengubah metode mereka dan adalah tugas kami untuk mengawasi dan mengamati tindakan mereka, dan terus bekerja agar selalu bisa selangkah lebih maju," kata juru bicara Twitter seperti dikutip detikINET dari CNET, Selasa (13/11/2018).

"Dalam beberapa kasus, tim yang berwenang untuk menegakkan kebijakan kami sudah mendeteksi aktivitas ini dan menghapusnya sebelum adanya laporan."


(krs/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed