Kamis, 23 Agu 2018 13:37 WIB

Skandal Persekongkolan Pialang Saham dan Hacker

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Ilustrasi. Foto: Thinkstock Ilustrasi. Foto: Thinkstock
Jakarta - Sangat banyak hal yang bisa terkena dampak dari aksi peretasan. Salah satunya peretasan yang bisa mengubah sebuah press release menjadi keuntungan puluhan juta dolar.

Adalah Ivan Turchynov, Oleksandr Ieremenko, dan Vadym Iermolovych, tiga orang hacker asal Ukraina yang terlibat dalam kasus peretasan server perusahaan semacam Business Wire, dan menjual informasi yang mereka dapat kepada para pialang saham dan mendapat keuntungan sangat besar dari aksinya itu.

Perusahaan newswire seperti Business Wire bisa dibilang menjadi pusat informasi untuk bermacam perusahaan, karena mereka menerima berbagai press release, pengumuman perubahan perundangan, dan berbagai macam informasi terkait perusahaan, dan kemudian menyebarkan ulang informasi tersebut ke media massa.

Namun jika informasi itu bisa didapat sebelum waktunya, tentu akan menjadi keuntungan bagi para pialang saham, karena mereka akan bisa memprediksi nilai saham mana yang akan naik atau turun dari informasi tersebut.



Dari sinilah kongkalikong antara trio hacker Ukraina itu dengan pialang saham dimulai. Mereka mulai meretas tiga perusahaan newswire asal Amerika Serikat menggunakan berbagai metode, dari mulai SQL injection, phising email, dan menyusupkan malware yang tujuannya untuk mendapat akses ke server perusahaan newswire tersebut.

Setelah mendapatkan akses, mereka akan mendapat permintaan dari para pialang saham yang terlibat untuk mencari press release dari sejumlah perusahaan tertentu. Kemudian press release yang sudah didapat itu akan diunggah ke server tertentu agar bisa diakses oleh para pialang saham.

Bayaran yang diterima oleh ketiga hacker itu adalah 40% dari keuntungan yang didapat oleh pialang saham.

Sejak awal 2012, ketiga newswire yang menjadi korban peretasan ini -- Business Wire, PR Newswire, dan Marketwired -- sebenarnya tak pernah berhenti menambah lubang dan menghapus malware yang ada di server mereka. Namun para hacker tetap bisa kembali menembusnya.

PR Newswire sendiri pada Maret 2012 mempekerjakan perusahaan cybersecurity bernama Stroz Friedberg untuk meningkatkan keamanan servernya. Saat itulah malware milik Turchynov ketahuan dan berhasil dihapus.

Namun pada 30 Mei 2012, Ieremenko berhasil kembali mengakses server Newswire dan melanjutkan aksinya itu. Kemudian pihak US Secret Service memutuskan untuk meminta bantuan dari badan intelijen Ukraina untuk menyelidiki aksi Turchynov dan kesehariannya.

Dari situ terungkap kalau Turchynov aktif di sebuah grup yang berisi 10 orang lain berusia 20an tahun, termasuk Ieremenko dan Iermolovych. Mereka mempunyai uang yang sangat banyak yang tak jelas asalnya dari mana.

Turchynov disebut mempunyai rumah di daerah bernama Koncha-Zaspa, yang merupakan kawasan elit di Kiev, ibukota Ukraina. Di media sosialnya pun ia kerap memamerkan koleksi jam emas, senjata, mobil mewah, dan foto-foto bersama temannya di klub malam di Kiev.



Akhirnya pada Novmeber 2012, pihak berwajib Ukraina bekerja sama dengan US Secret Service dan FBI menggerebek 9 properti di Kiev yang terkait dengan hacker tersebut. Hasilnya adalah penyitaan laptop milik Ieremenko dan Yurchynov, menemukan ratusan press release dan catatan percakapan yang terkait skema peretasan itu.

Bahkan Special Agent US Secret Service Alexander Parisella sempat menginterogasi Turchynov, Ieremenko dan sejumlah hacker lainnya terkait aksi mereka. Namun pihak AS tak bisa mengambil langkah lebih lanjut, karena Ukraina tak bisa mengekstradisi warganya sendiri.

Para pelaku -- saat itu -- tak ada yang dijatuhi hukuman di Ukraina karena mereka juga tak pernah menerima permintaan semacam ini dari pihak AS. Ternyata, badan intelijen Ukraina pun ada 'main' dengan Turchynov.

"Saat itu, dia membayar polisi. Bukan membayar tepatnya. Ia memberikan koleksi jam tangannya yang bernilai setengah juta (dolar). Ia memberikan rumahnya. Ia memberikan Bentley-nya, dan pihak berwajib Ukraina mengatakan, 'Oke anda sekarang bekerja untuk kami atau anda akan pergi ke Amerika'," ujar seseorang yang bisa mengontak Turchynov saat itu.

Setelah berbagai perjalanan yang berliku, ketiga hacker ini tertangkap pada 2016, diadili, dan dijatuhi hukuman pada 2017, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Kamis (23/8/2018).

Kisah ini menunjukkan bagaimana aksi hacker bisa mengubah skema insider trading. Dari yang tadinya membutuhkan orang dari dalam perusahaan untuk bisa memberi informasi mengenai kondisi perusahaan menjadi hacker yang bisa mengambil informasi banyak perusahaan sekaligus dari sebuah aksi peretasan.

Pihak berwajib di Amerika Serikat menyebut aksi ketiga hacker Ukraina ini sebagai kasus penipuan sekuritas terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. (fyk/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed