Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Bellua Cyber Security 2005
Malaysia Disadarkan Lewat e-Ganyang
Bellua Cyber Security 2005

Malaysia Disadarkan Lewat e-Ganyang


- detikInet

Jakarta - Maraknya aksi e-Ganyang yang terjadi antara Indonesia dengan Malaysia beberapa waktu lalu, dampaknya ternyata mampu menyadarkan Malaysia."Aksi e-ganyang kemarin kami anggap sebagai wake-up call (peringatan yang menyadarkan-red) bagi sistem keamanan Malaysia," kata Fhilip Victor, Senior Instructer di National ICT Security and Emergency Response Centre (NISER), di Jakarta, Rabu (23/3/2005). "Ini jadi peringatan bagi kami untuk lebih siap, bagaimana kalau yang menyerang adalah teroris cyber?" katanya. NISER adalah organisasi asal Malaysia yang menangani masalah kemanan di bidang teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communication Technology-ICT), anggotanya setengah dari kalangan pemerintah dan setengah dari kalangan swasta. Perwakilan NISER ditemui detikcom di sela-sela konferensi Bellua Cyber Security Asia, yang berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta. Untuk Asia, konferensi ini berlangsung di Hotel Borobudur Jakarta 21-24 Maret 2005. Lokasi lainnya adalah di Eropa, yang berlangsung di Frankfurt, Jerman, pada bulan September tahun ini.Meski sempat merepotkan, NISER mengaku berusaha melihat sisi positif dari aksi deface itu. "Dari kejadian itu, kami mengetahui banyak organisasi yang tidak memiliki keamanan yang memadai. Ada kurang lebih 200 situs yang berhasil diserang pada saat itu. Padahal, banyak organisasi yang telah memiliki teknologi pengamanan seperti anti-virus, firewall, dan aplikasi sejenis," papar Victor.Lalu kenapa mereka bisa diserang? "Itu terjadi karena kurangnya kesadaran dan pelatihan. Juga ada aplikasi-aplikasi yang dikembangkan tanpa mengikuti prosedur quality control yang tepat, termasuk situs pemerintah," katanya. Tidak Hanya MenyerukanDisampaikan Victor pada saat kejadian, pihaknya tidak hanya menyerukan untuk waspada, tapi pihaknya juga menyediakan dan mengirim pernyataan peringatan kepada perusahaan-perusahaan di Malaysia."Kami meminta mereka untuk meningkatkan keamanan sistemnya, dan menyarankan mereka untuk melakukan upgrade," katanya.Dijelaskannya, dalam kejadian itu, NISER berperan untuk memastikan semua orang di Malaysia aman, terutama yang berhubungan dengan infrastruktur kritis."Pada saat itu, kami tau ada serangan dari Indonesia, tapi kami tidak melakukan tracing. Yang penting bagi kami bukan mengetahui siapa individunya, tapi bagaimana menghentikannya," ungkapnya. "Kami ingin orang-orang di Malaysia sadar akan pentingnya keamanan sistem dan setidaknya mereka tahu apa yang harus dilakukan, bukan sekedar mencari siapa pelakunya."Pihak NISER meyakini, para pelaku deface melakukan aksinya atas nama individu, tidak mewakili kelompok tertentu. Para hacker dinilai melakukan itu semua karena memanfaatkan kesempatan dan punya alasan untuk melakukan itu, dan alasannya bukan atas kepentingan nasionalisme.Sebagai organisasi keamanan, NISER membawahi Malaysia Computer Emergency and Response Team (MyCERT), organisasi yang sama di Indonesia bernama IdCERT. NISER juga memiliki unit forensik yang tugasnya membantu Kepolisian untuk menangani masalah-masalah cybercrime termasuk melacak pelaku, bukti-bukti digital untuk diajukan ke pengadilan dan bersaksi di pengadilan.Organisasi ini juga punya unit security assurance yang fungsinya untuk mengevaluasi produk-produk ICT berdasarkan kriteria-kriteria keamanan. Unit-unit lainnya adalah unit pelatihan, dan unit perencanaan strategis dan administrasi. (ien/)





Hide Ads