Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
I Made Wiryana:
'e-Ganyang Bagian Dari Diplomasi'
I Made Wiryana:

'e-Ganyang Bagian Dari Diplomasi'


- detikInet

Jakarta - Sebagian kalangan menghimbau agar aksi e-ganyang situs Malaysia dihentikan. Sedangkan sebagian yang lain berpendapat bahwa aksi tersebut bagian dari diplomasi untuk mencegah perang. Pendapat itu disampaikan I Made Wiryana, akademisi teknologi informasi yang mendalami bidang keamanan komputer. "Aksi deface ini bisa sebagai 'part of military diplomacy', istilahnya show off," tutur Made kepada detikcom, Selasa (15/03/2005).Menurut staf pengajar Universitas Gunadarma yang tengah menyelesaikan studi doktoralnya di Jerman tersebut, hal semacam itu sering terjadi dalam situasi "perang". Sebuah negara menunjukkan kemampuannya untuk melakukan kerusakan dan sabotase saat masih dalam tahap diplomasi. "Supaya para politisinya ngeri dan sepakat untuk membatalkan perang. Itu namanya alat perang, bukan untuk perang," tutur pria yang gemar memelihara kumis tersebut.Selain itu, menurut Made, aksi e-ganyang yang terjadi bisa menunjukkan kemampuan orang Indonesia dalam bidang teknologi informasi. "Apalagi saat ini khan relatif orang tidak percaya kemampuan SDM Indonesia, termasuk kemampuan desktruktif. Lha banyak yang percaya perusahaan software banking Malaysia itu yang top, padahal itu perusahaan Indonesia dan yang ngerjain orang Indonesia cuma based-nya di Malaysia," Made menjelaskan.Sedangkan dalam hal perang informasi, menurut Made aksi deface tersebut bisa memberi petunjuk pada negara lain bahwa perang dengan Indonesia itu berbeda. "Kejadian cyber ini khan seperti menunjukkan bahwa bisa timbul aksi desktrutif yang bukan dilakukan oleh tentara, tapi oleh masyarakat yang bersimpati dengan posisi suatu negara," ujar Made.Tak Bisa Sekadar HimbauanNamun Made juga melihat kemungkinan aksi deface yang tidak terkontrol memang dapat berbalik merugikan negara yang melakukannya. Citra negara yang bersangkutan, dalam hal ini Indonesia, bisa jadi memburuk. Oleh karena itu Made memang sepakat kalau aksi yang tidak terkontrol tersebut sepatutnya dihentikan. Tapi caranya tidak cukup dengan sekedar himbauan. "Kalau mau menghimbau terhadap aksi deface ini, kita juga harus menggunakan "kacamata perang" yang digunakan oleh attacker, jadi mereka (pelaku deface -red.) paham kapan harus berhenti," Made menambahkan. Solusinya, ujar Made, adalah inventarisasi kelemahan yang diserang pelaku deface. "ID-CERT (Indonesia Computer Emergency Response Team -red.) atau siapa saja menginventarisir deface itu menyerang apa saja, O/S (sistem operasi -red.) apa, vulnerability (kelemahan -red.) apa," ia menerangkan.Setelah itu, langkah yang perlu dilakukan oleh lembaga yang bersangkutan adalah mengeluarkan advisory, yaitu petunjuk mengenai kelemahan sistem informasi dan apa yang harus dilakukan. "Dan bila perlu melakukan audit ke situs pemerintah dan bank," ujar Made.Menurut Made, saat ini semua pihak masih harus waspada. "Karena kita khan nggak tahu apa bener orang malaysia, atau cracker dari manapun. Tapi yang penting khan jangan sampai vulnerability yang ada kena, dan jadi repot. Nah kalo langkah itu dilakukan MYCERT (Malaysia Computer Emergency Response Team -red.) juga, artinya cepat atau lambat (aksie-ganyang) itu akan terminimasi, tanpa perlu ada himbauan," tuturnya. (ien/)







Hide Ads