Aksi e-<i>Ganyang</i> Situs RI - Malaysia
'Internet Indonesia Siaga Satu!'
- detikInet
Jakarta -
Pemerintah Indonesia dan Malaysia telah menyatakan sepakat untuk menempuh segala upaya damai dalam menyelesaikan sengketa Blok Ambalat. Perang adalah pilihan yang benar-benar paling akhir. Tetapi hal tersebut rupanya tidak berlaku bagi komunitas "dedemit maya" antar kedua negara serumpun tersebut. Dalam beberapa hari terakhir, "perang" di dunia maya malah sudah berlangsung, dengan eskalasi yang mulai mengkhawatirkan.Menurut pantauan detikcom pada beberapa chatroom underground kedua belah pihak hingga Sabtu dini hari, (12/3/2005), aksi provokasi masih terus berlanjut. Secara frontal, baik dari pihak Indonesia maupun pihak Malaysia, saling melancarkan kecaman dan tantangan. Jika hal ini terus berlanjut, maka akan semakin banyak pihak yang tidak ikut-ikutan akan menjadi korban. Siaga SatuMenyikapi hal tersebut, maka sudah sewajarnyalah bagi para pengelola berbagai server dan infrastruktur Internet di Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaannya. Hal tersebut turut ditegaskan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), sebagai induk dari para Internet Service Provider (ISP) di Indonesia. Berdasarkan analisis dari tim teknis APJII, ternyata masih banyak server Indonesia yang terkoneksi dengan Internet, memiliki hole untuk dapat disusupi oleh pihak yang tidak bertanggung-jawab.Untuk itu, melalui Sekjen-nya, Heru Nugroho, APJII meminta agar seluruh admin untuk waspada dan siaga. Apakah itu berarti kini seluruh "jajaran" Internet di Indonesia harus dalam kondisi "siaga satu"? Heru tak menampik hal tersebut. "Ya, bisa dibilang seperti itu. Karena perkembangan (aksi deface Indonesia - Malaysia) hingga akhir minggu ini semakin mengkhawatirkan, dan cenderung brutal," ujar Heru.Tutup LubangLangkah yang paling mendasar terhadap tuntutan atas kesiapsiagaan para admin tersebut adalah dengan melakukan pemeriksaan berkala atas server dan infrastruktur yang dikelolanya. Menutup lubang (hole) dan melakukan penambalan (patch) haruslah dijadikan standard operating procedure (SOP) bagi setiap admin.Dengan secara seksama menutup lubang dan melakukan penambalan, maka resiko sebuah server atau infrastruktur Internet untuk dapat disusupi pihak lain, dapat diminimalisir. Apalagi kini aksi deface yang dilakukan oleh kedua belah pihak, Indonesia dan Malaysia, tidak lagi pandang-bulu dalam memilih korbannya.Ancaman DOSSebuah kekhawatiran lain yang perlu diwaspadai oleh berbagai pihak yang terkait dengan Internet di Indonesia adalah serangan denial-of-service (DOS). Serangan ini laksana membanjiri suatu kanal atau saluran dengan "sampah" yang jumlahnya tidak kira-kira, sehingga saluran tersebut menjadi mampet. Jika saluran tersebut adalah saluran Internet, maka yang terjadi adalah macetnya jalur Internet, baik sekedar jalur ke sebuah server tertentu, atau hingga ke infrastruktur Internet lainnya yang lebih vital.Jika aksi DOS tersebut sampai terjadi dan menyerang titik-titik vital di jaringan Internet Indonesia, maka skenario yang paling buruk adalah collaps-nya Internet di Indonesia lantaran kelebihan beban yang sedemikan tinggi dan sedemikian mendadak. Apalagi, menurut Heru, jika dibandingkan dengan Malaysia, bandwidth Internet di Indonesia masih "kurus". Walhasil, Internet di Indonesia akan sangat terasa lambat "luar-biasa" dalam rentang waktu tertentu."(Bandwidth) kita ndak ada apa-apanya dibandingkan Malaysia. Mereka sih mewah di bandwidth. Nah bandwidth di kita masih kurus," ujar Heru. Penegasan Heru ini mudah-mudahan akan dapat meyakinkan para "dedemit maya" yang kini tengah bertikai. Bahwa kalau eskalasi cyberwar terus meningkat dari sisi kualitas maupun kuantitas, maka yang akan rugi adalah diri sendiri.Jadi, ikutilah kata orang bijak, jika ingin damai maka bersiaplah untuk berperang. Caranya, dengan selalu waspada dan siap siaga. Jangan belum apa-apa, sudah angkat kapak perang dan "menembak" membabi-buta.
(ien/)