Kamis, 15 Feb 2018 11:50 WIB

Ditakuti Intelijen AS, ZTE dan Huawei Angkat Bicara

Agus Tri Haryanto - detikInet
Ponsel Huawei. Foto: detikINET/Adi Fida Rahman Ponsel Huawei. Foto: detikINET/Adi Fida Rahman
Jakarta - Tudingan dari sejumlah badan intelijen Amerika Serikat (AS) terhadap penggunaan smartphone China, membuat vendor yang dituding tak tinggal diam untuk memberikan penjelasan. ZTE dan Huawei angkat bicara bahwa larangan itu tak beralasan.

Dikutip detikINET dari Zdnet, Kamis (15/2/2018), ZTE mengatakan berupaya menghadirkan invoasi dan keamanan produk untuk pasar AS. Sebagai perusahaan publik, ZTE berkomitmen mematuhi semua undang-undang dan peraturan yang berlaku di AS, bekerjasama dengan operator untuk melewati protokol pengujian ketat dan memenuhi standar bisnis tinggi.

"Ponsel dan perangkat kami menggabungkan chipset buatan AS, sistem operasi buatan AS, dan komponen lainnya. ZTE membawa cybersecurity dan privasi secara serius dan tetap menjadi mitra terpercaya bagi pemasok, pelanggan, dan orang-orang yang menggunakan produk berkualitas dan terjangkau untuk kebutuhan komunikasi mereka," tutur ZTE.



Sedangkan Huawei mengaku fokus di bidang keamanan sampai privasi dan produk mereka sudah digunakan oleh pemerintah dan pelanggan di 170 negara. Penyebaran produk dan layanan Huawei ini seakan menyangkal tuduhan yang diucapkan oleh intelijen AS terhadap produk China.

"Kami melayani 170 negara dan selama 30 tahun kami membuktikan kualitas kami dan privasi kami serta proteksi sekuriti," sebut Richard Yu, CEO Huawei Technologies Consumer Business Group.

Tuduhan ini bermula dari enam agensi intelijen utama di AS, seperti FBI, CIA, NSA, hingga National Intelligence memperingati warga Negeri Paman Sam untuk tidak memakai produk dan layanan yang ditawarkan oleh Huawei dan ZTE.

Saran ini dikeluarkan dalam rapat dengar pendapat dengan Senate Intelligence Committee, Selasa (13/2) lalu. Dalam pernyataannya, direktur FBI Chris Wray menyebut pemerintahan sangat memperhatikan risiko yang sangat tinggi akibat membolehkan perusahaan yang memperlihatkan kapasitasnya untuk melakukan spionase untuk beroperasi di AS.

Peringatan ini sebenarnya bukan hal baru. Komunitas Intelijen AS sudah lama memperlihatkan sikap anti Huawei tersebut. Bahkan sebelumnya Huawei pernah diblokir untuk bisa mengikuti kontrak kerja dari pemerintahan AS pada 2014.

Pemerintah AS pun saat ini tengah mempertimbangkan undang-undang yang membolehkan pemerintah untuk melarang karyawan pemerintahan menggunakan ponsel bikinan Huawei dan ZTE. Politisi di AS sendiri sudah mencap Huawei sebagai kaki tangan pemerintahan China. (agt/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed