Dibanding Linux
Ternyata patch Windows lebih murah
- detikInet
Jakarta -
Patch management untuk komputer client dan server yang menggunakan Microsoft Windows, ternyata lebih murah dibanding dengan yang menggunakan open source. Itu yang tampak dari sebuah hasil studi.Riset yang disponsori Microsoft ini menyebutkan bahwa total cost of ownership (TCO), yang meliputi patch management di dalamnya, tidak seperti yang dipikirkan orang-orang selama ini. Riset yang dilakukan oleh Wipro Technologies Inc. dan sudah diaudit oleh perusahaan riset Meta Group Inc., menyebutkan bahwa dalam hal ini Windows lebih murah dibanding Linux.Seperti dikutip dari Ziff Davis, Senin (23/5/2005), hasil studi itu menyebutkan, biaya untuk memperbaiki kelemahan software pada Windows, secara kasar dapat dibandingkan dengan biaya untuk memperbaiki software open source sejenis. Selain itu sistem berbasis Windows memerlukan biaya yang lebih rendah, dalam setiap patch-nya, dibanding Linux.Sebagai contoh, rata-rata patch yang ditujukan untuk Windows client menghabiskan biaya 14 persen lebih murah, dibanding melakukan hal yang sama pada komputer berbasis open source. Studi juga menyebutkan, total biaya untuk mem-patch server database berbasis Windows, 33 persen lebih murah dibanding komponen yang sama pada Linux.Wipro juga menekankan bahwa jumlah kelemahan yang ditemukan pada software open source, biasanya tidak bisa diduga. Temuan ini senada dengan hasil penelitian yang dilakukan secara independen oleh analis Laura DiDio, dari Yankee Group Research Inc. Wanita ini mengemukakan bahwa secara keseluruhan, nyaris tidak ada perbedaan TCO antara Windows dan Linux. DiDio menilai, tidak mengagetkan jika kemudian muncul hasil riset serupa."Microsoft telah mencetak kemajuan dalam hal patch management selama beberapa tahun belakangan," kata DiDio. "Jadi cukup masuk akal kalau terjadi perubahan TCO yang dialami perusahaan-perusahaan."Roger Kay, analis dari IDC setuju bahwa strategi patch Microsoft sudah lebih efisien sekarang. Selain itu, saya rasa patch di dunia open source tidak terlalu diorganisir, jadi itu mungkin jadi salah satu faktor pendorong," paparnya.Beramunisikan Hasil RisetHasil survei ini merupakan senjata terbaru bagi Microsoft yang dipaparkannya dalam strategi pemasaran bertajuk 'Get the Facts'. Ini adalah siasat bagi raksasa software asal Redmond, Amerika Serikat ini untuk berhadapan dengan si burung pinguin 'Linux'. Baru-baru ini, kampanye Microsoft juga memaparkan hasil studi yang menyebut bahwa Windows Server 2003 lebih tangguh dan lebih bisa diandalkan. Serta memungkinkan administrator TI untuk menjalankan berbagai aplikasi, lebih cepat dibanding Red Advanced Server 3.0, milik Red Hat Inc. Meski begitu, komunitas open source lebih banyak melontarkan cibiran terhadap hasil riset tersebut. Terlibatnya Microsoft sebagai pihak yang mensponsori riset, dituding sebagai pemicu adanya konflik kepentingan dalam proses riset."Ada alasan kenapa kami menolak melakukan riset yang disponsori oleh suatu perusahaan," kata Ted Schadler, dari Forrest Research Inc. "Kami rasa itu mengkebiri integritas kami. Bahkan jika hasilnya imbang, perusahaan sponsor biasanya hanya merilis sebagian hasil, yang mana itu bisa mengaburkan hasil riset secara keseluruhan."Microsoft sepertinya berniat melakukan itu," kata Kay. "Kenyataannya, Microsoft menghabiskan banyak uang untuk menunjukkan laporan hasil riset yang menyatakan bahwa produknya lebih bagus dibanding yang lain," katanya.
(andri/)