Rabu, 13 Des 2017 12:56 WIB

Kolom Telematika

Apa yang Membuat Bitcoin Begitu Perkasa?

Penulis: Alfons Tanujaya - detikInet
Foto: Reuters Foto: Reuters
Jakarta - Money is a root of evil, uang adalah akar kejahatan. Pepatah ini ada benarnya jika dikaitkan dengan perkembangan awal Bitcoin.

Pada awal perkembangan Bitcoin, mata uang kripto ini banyak digunakan untuk mendukung aktivitas transaksi yang menyerempet dunia hitam yang menggunakan Bitcoin dalam transaksi jual beli terlarang.

Salah satu contoh yang terkenal adalah situs Silkroad. Selama 2,5 tahun, situs ini menjadi pasar gelap jual beli obat terlarang online terbesar.

Pada Oktober 2013, pemiliknya Ross Ulbricht yang terkenal dengan nama 'The Dread Pirate Roberts' ditangkap oleh FBI dan dijebloskan ke penjara.

FBI mendapatkan 144.000 Bitcoin dari akun Silk Road dan menjadikan FBI sebagai salah satu pemilik Bitcoin terbesar di dunia.

Selain digunakan untuk transaksi obat terlarang, Bitcoin juga menjadi pilihan untuk menerima pembayaran ransomware atau program penyandera data.

Dimulai oleh cryptolocker, gelombang ransomware data mulai melancarkan aksinya pada 2013, mengenkripsi (mengunci dengan
metode kriptografi) data.

Hanya pembuat malware yang memiliki kunci untuk membuka data yang dienkripsi. Mereka akan meminta pembayaran tebusan agar korban bisa membuka kembali data miliknya.

Tentunya penyandera tidak bodoh dengan meminta korban mengirimkan uang ke rekeningnya di bank. Pasalnya, rekening dan aliran dana bank dapat dengan mudah dilacak oleh pihak berwenang.

Karena itu, pilihan jatuh pada mata uang kripto Bitcoin yang sifatnya anonymous atau terdesentralisasi dan tidak dikontrol oleh bank sentral atau badan pemerintahan manapun di dunia ini.

Bitcoin pada akhir 2017 menjadi headline berita di dunia karena mengalami lonjakan nilai yang luar biasa dari USD 1.000 menjadi USD 19.000.

Semua orang bertanya-tanya, apa gerangan yang membuat mata uang kripto ini begitu perkasa. Kali ini penyebabnya bukan SilkRoad atau Ransomware tetapi Chicago.

Apa yang Membuat Bitcoin Perkasa Foto: Reuters


CBOE dan CME

Chicago Board Option Exchange (CBOE) dan CME Chicago Mercantile Exchange adalah pasar opsi terbesar di Amerika yang menawarkan opsi dari perusahaan, indeks saham dan kontrak berjangka.

Dua badan ini memutuskan untuk membuka kontrak berjangka untuk Bitcoin di bulan Desember 2017 dimana CBOE akan melakukan pada 10 Desember 2017 dan CME akan membuka kontrak berjangka Bitcoin pada 17 Desember 2017.

Hal ini kontan akan langsung membuka jalan tol akses dana raksasa dari pasar finansial dunia terhadap Bitcoin dan menjembatani uang kripto dengan uang nyata di dunia ini. Optimisme ini yang melambungkan nilai Bitcoin hampir 15 kali di tahun 2017.

Apa yang Membuat Bitcoin Perkasa Foto: Reuters


Blockchain, kekuatan utama Bitcoin

Kalau Samson rahasia kekuatannya ada di rambutnya, maka dapat dikatakan jantung Bitcoin adalah blockchain.

Blockchain yang pertamakali diperkenalkan oleh Satoshi Nakamoto adalah informasi yang selalu berkembang yang dinamakan block dan saling terhubung satu sama lain membentuk rantai dan koneksi antar blok yang diamankan dengan kriptografi.

Setiap blok mengandung informasi tautan pada blok sebelumnya, stempel waktu dan data transaksi. Blockchain dirancang untuk tahan
terhadap manipulasi atau modifikasi data yang tidak diinginkan.

Dalam kasus Bitcoin, blockchain dapat dikatakan sebagai buku besar yang terdistribusi dan digunakan untuk mencatat transaksi antar pihak dengan metode yang terverifikasi dan bersifat tetap (tidak bisa diubah).

Karena digunakan secara terdistribusi, blockchain dikelola secara kolektif. Data blockchain bersifat permanen karena sekali tercatat, data di blockchain tidak dapat diubah tanpa mengubah data pada seluruh rantai blok yang membutuhkan kolusi pada seluruh jaringan blockchain.

Sesuatu yang hampir tidak mungkin terjadi atau setidaknya sampai hari ini tidak pernah terjadi karena besarnya jaringan blockchain itu sendiri.

Dengan sistem blockchain dan ukurannya yang diperkirakan mencapai ratusan ribu komputer yang saling terhubung serta penyebaran geografis yang sangat luas, Bitcoin sangat sulit atau tidak bisa dikontrol oleh satu institusi atau negara karena memang dirancang untuk independen dan terdistribusi.

Karena itu, transaksi Bitcoin bebas dari pengaruh korporasi seperti bank, perantara dan institusi finansial lain yang pada dasarnya menyebabkan adanya tambahan biaya dalam melakukan transaksi.

Namun, karena anonimitasnya yang tinggi, Bitcoin banyak digunakan untuk melakukan aktivitas yang melanggar hukum supaya sulit dilacak oleh pihak yang berwenang seperti jual beli obat terlarang, senjata ilegal dan meminta uang tebusan secara anonim.

Apa yang Membuat Bitcoin Perkasa Foto: Getty Images


Ancaman terhadap bitcoin

Bitcoin sering didengungkan sebagai mata uang digital dan sempat menjadi mata uang yang diterima untuk melakukan pembayaran seperti mata uang lain.

Namun, popularitas Bitcoin yang tinggi menyebabkan volatilitasnya tinggi dan hal ini malah berdampak buruk bagi penggunaan Bitcoin sebagai mata uang.

Steam, layanan online gaming yang sempat menerima Bitcoin sebagai alternatif pembayaran, memutuskan untuk menghentikan penerimaan Bitcoin karena tingginya volatilitas yang menyebabkan biaya tidak terduga yang sangat tinggi dalam menggunakan Bitcoin.

Sebagai gambaran, jika Anda menjual villa di Bali seharga Rp 1 Miliar pada 1 Desember dengan mata uang Bitcoin dan keesokan harinya nilai Bitcoin anjlok 30 %, maka uang yang Anda terima hanya Rp 700 juta.

Hal ini tentunya sangat ditakuti oleh pebisnis sehingga selama volatilitasnya tinggi, maka fungsinya sebagai mata uang untuk pembayaran akan dihindari.

Ancaman lain adalah pencurian dan peretasan yang sangat tinggi. Salah satu buktinya adalah bursa Bitcoin Jepang Mt Gox yang sempat menjadi bursa Bitcoin terbesar dunia karena menangani 70% transaksi Bitcoin dunia, pada Februari 2014 terpaksa harus bangkrut karena menjadi korban peretasan dan kehilangan ratusan ribu Bitcoin.

Seiring meroketnya harga Bitcoin, otomatis akan menaikkan risiko peretasan dan korban terakhir adalah Nicehash yang harus mengalami kerugian sekitar USD 68 juta karena sistemnya berhasil diretas.

Jika perusahaan sebesar Mt Gox dan Nicehash yang notabene sudah mempersiapkan diri terhadap usaha peretasan namun tetap berhasil diretas, bagaimana dengan pengguna biasa yang terkadang gagap teknologi.

Jangankan melindungi Bitcoinnya, melindungi kredensial Facebook saja terkadang masih mengalami kesulitan. Kehilangan uang di Bitcoin berbeda dengan kehilangan uang di bank.

Di bank, Anda masih bisa melacak ke mana uang dikirimkan dan siapa yang melakukan hal tersebut. Dalam banyak kasus peretasan, bank juga turut bertanggung jawab membantu atau memberikan ganti rugi.

Sedangkan di Bitcoin, sekali uang Anda hilang, Anda hanya bisa mengadu kepada blockchain dan tidak ada otoritas yang bisa membantu mengembalikan uang Anda.

Karena itu, mulailah berlatih mengelola kredensial dengan baik, aktifkan TFA Two Factor Authentication dan jaga piranti pintar Anda dari malware yang biasanya digunakan peretas untuk menjalankan aksinya.


*Alfons Tanujaya aktif mendedikasikan waktu untuk memberikan informasi dan edukasi tentang malware dan sekuriti bagi komunitas IT Indonesia. (rns/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed