Menurut pihak Korsel, data yang dicuri besarnya mencapai 235 GB, yang berisi sejumlah rencana kerja sama Korsel dengan Amerika Serikat. Lalu ada juga rencana kontijensi dan informasi infrastruktur lain milik Korsel.
Pernyataan ini dikeluarkan oleh Rhee Cheol-hee, yang merupakan anggota komite pertahanan parlemen Korsel. Ia mengaku mendapat informasi ini dari Kemeterian Pertahanan Korsel, meski pihak Kementerian Pertahan menolak mengomentari informasi ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun pihak AS mengaku tetap tenang karena mereka yakin dengan keamanan informasi-informasi rahasia mereka. Seperti rencana operasi, dan kemampuan mereka untuk mengatasi bermacam ancaman dari Korut, demikian dikutip detikINET dari Engadget, Rabu (11/10/2017)
Peretasan itu kabarnya terjadi pada September 2016 lalu, namun informasi soal kejadian ini baru ada pada Mei 2017 lalu, di mana Korsel mengaku adanya pencurian data berjumlah besar dan tentu saja Korut yang jadi tertuduh. Namun saat itu belum ada informasi lebih lanjut soal peretasan tersebut. (asj/fyk)