BERITA TERBARU
Minggu, 08 Okt 2017 10:55 WIB

Kaspersky Dimanfaatkan Hacker Rusia Curi Data

Rachmatunnisa - detikInet
Foto: internet Foto: internet
Jakarta - Hacker asal Rusia mencuri data rahasia National Security Agent (NSA) melalui salah satu agen kontraktornya. Kejadian yang diketahui berlangsung pada 2015 ini merupakan pembobolan besar di internal NSA.

Dikutip dari Wall Street Journal, Minggu (8/10/2017), pencurian data ini diduga terjadi setelah si agen NSA mentransfer data-data tersebut ke komputer miliknya.

Agen tersebut menggunakan software antivirus buatan Kaspersky, yang memungkinkan para peretas mengidentifikasi dan menargetkan data milik agen tersebut.

Tidak jelas apakah peretasan yang baru diketahui ini masih terkait Shadow Brokers atau bukan. Shadow Brokers adalah sebutan untuk rentetan kebocoran data NSA yang banyak terkait dengan pemerintahan Rusia.

Sementara itu, terkait software Kaspersky yang dicurigai sebagai 'tokoh utama' dalam pencurian data ini, tidak diketahui apakah Kaspersky sendiri menyadari adanya serangan ini.

Yang jelas, program antivirus ini secara rutin mengirim data telematika ke server pusatnya. Dalam kasus Kaspersky, server pusatnya berlokasi di Rusia.

Transmisi data ini dienkripsi menggunakan SSL. Namun jika pihak Rusia bisa membuka enkripsi tersebut, mereka bisa mendeteksinya tanpa diketahui Kaspersky maupun agen NSA.

Bagi Kaspersky, laporan ini membuat perusahaannya semakin dicurigai, di tengah memburuknya hubungan Amerika Serikat (AS) dan Rusia yang berdampak semakin luas.

Seperti diketahui, antivirus Kaspersky dilarang penggunaannya di Negeri Paman Sam. Pemerintahan Donald Trump telah menghapus nama Kaspersky Lab dari daftar vendor untuk pembelian perangkat teknologi yang akan digunakan oleh instansi pemerintahan.

Alasannya, dikhawatirkan produk keamanan Kapersky menjadi jalur yang digunakan Kremlin untuk masuk ke jaringan di AS.

Hal tersebut menjadi tindakan konkrit dari kecurigaan badan intelijen dan parlemen AS yang muncul sejak beberapa bulan lalu.

Mereka meyakini perusahaan antivirus yang bermarkas di Moskow itu punya hubungan erat dengan badan intelijen Rusia yang berada di balik serangan cyber ke AS. (rns/asj)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed