Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Teror Cyber Makin Seram, Rumah Sakit Jadi Sasaran

Teror Cyber Makin Seram, Rumah Sakit Jadi Sasaran


Rachmatunisa - detikInet

Ilustrasi (gettyimages)
Jakarta - Laporan terbaru Trend Micro mengungkapkan adanya evolusi di dunia kejahatan cyber. Tak hanya terjadi pada metodenya, tetapi juga sarana, prasarana serta yang menjadi sasaran.

"Di kuartal kedua tahun ini kami melihat adanya pergeseran peta ancaman keamanan seiring semakin canggih dan kreatifnya para penjahat cyber dalam memanfaatkan teknik lama untuk mendukung aksinya sehingga dampaknya lebih dahsyat lagi," kata Country Manager Trend Micro Indonesia Andreas Kagawa dalam perbincangan dengan sejumlah media di kantor Trend Micro Indonesia, Kamis (27/8/2015).

Dikatakannya, laporan terbaru memberikan gambaran betapa besarnya potensi kerusakan yang timbul akibat serangan cyber. Tak hanya itu, aksi kejahatan cyber kini juga merambah hingga ke pemanfaatan software bug untuk meretas pesawat terbang, kendaraan pintar, hingga acara stasiun televisi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Penyerangan juga terjadi accross industry. Dulu orang berpikir ancaman cyber hanya mengintai industri seperti bank atau telekomunikasi. Bahkan terjadi accross nation juga, serangan bisa dilakukan dari negara lain misalnya. Dan faktanya, kini sasarannya juga meluas dan dengan tujuan spesifik," sebutnya.

Dia mencontohkan serangan cyber di bidang kesehatan. Bahkan dikatakan Andreas, bidang kesehatan kini menjadi target favorit penyerangan. Data di rumah sakit sangat menarik para pelaku kejahatan cyber untuk mencurinya.

"Tujuannya jelas, dia mau curi data. Data rumah sakit itu kan lengkap. Gak hanya biodata pasien tapi juga dengan medical record-nya golongan darah dan segala macam," paparnya.

Di kuartal dua tahun ini, setidaknya tercatat ada tiga serangan cyber yang menyasar bidang kesehatan. Ketiganya terjadi di Amerika Serikat dan Jepang. Tak perlu ditanya lagi jumlah korban dari serangan ini. Angkanya mencapai jutaan. Ditambah lagi, kerugian yang diakibatkan pun tak sedikit.

Andreas memaparkan data, pada 20 Mei 2015 serangan cyber menimpa Carefirst Blue Cross di Baltimore, Maryland, Amerika Serikat dan mencatat korban sebanyak 1,1 juta orang. Kemudian 26 Mei 2015, IRS Washington DC, Amerika Serikat memakan korban 21,5 juta orang. Yang terbaru terjadi pada Japan Pension Service di Tokyo, Jepang tercatat 1 juta korban kehilangan data penting mereka.

Dilaporkan pula oleh Trend Micro, lembaga-lembaga pemerintah kini juga mulai menyadari betapa seriusnya dampak yang ditimbulkan oleh kejahatan cyber menyusul terjadinya aksi pembobolan data secara besar-besaran yang melanda kantor Internal Revenue Service (IRS) Amerika Serikat pada Mei dan Office of Personnel Management (OPM) Amerika Serikat di Juni lalu.

Pembobolan data di OPM tersebut dinilai sebagai aksi yang terbesar untuk kejadian serupa tercatat hingga saat ini, karena peristiwa tersebut telah mengakibatkan tereskposnya informasi-informasi personal milik 21 juta orang warga. Serangan serupa juga melanda lembaga-lembaga pemerintah yang lain di negara tersebut melalui serangan bertarget dengan menggunakan macro malware maupun server-server command and control (C&C) mutakhir, serta dengan memanfaatkan celah-celah kerentanan keamanan yang telah berhasil dieksploitasi, termasuk model 0-days Pawn Storm.

Secara umum, laporan keamanan Trend Micro kuartal kedua tahun 2015 ini menggarisbawahi bahwa negara yang menjadi target serangan terbesar adalah Amerika. Begitu pula sebaliknya, serangan-serangan yang memanfaatkan tautan-tautan berbahaya, spam, server C&C dan ransomware ditengarai sebagian besar juga bersarang dan berasal dari negara tersebut.

(rns/ash)







Hide Ads