Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Dampak Serangan <i>Cyber</i> Separah Bom Nuklir

Dampak Serangan <i>Cyber</i> Separah Bom Nuklir


Adi Fida Rahman - detikInet

Ilustrasi (gettyimages)
Jakarta - Serangan cyber memang tidak tampak seperti perang yang melibatkan misil dan rudal. Tapi jangan ditanya dampaknya, dapat merusak seperti serangan bom atom Hiroshima. Bagaimana bisa?

Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman M. Fachrir dalam sesi diskusi di Simposium Nasional Cybersecurity 2015 mengatakan, sejumlah serangan cyber telah mengarah ke infrastruktur nuklir sejumlah negara. Beberapa tahun lalu yang sempat menjadi perhatian dunia adalah serangan cyber terhadap instalasi nuklir Iran.

Serangan cyber terhadap fasilitas nuklir Iran dilancarkan menggunakan virus Stuxnet. Malware tersebut menyusup ke instalasi nuklir Iran sekitar tahun 2009. Serangan tersebut bertujuan untuk mengubah kecepatan ribuan sentrifugal nuklir Iran dan mengganggu penelitian nuklir negara itu.

Meski serangan tersebut tidak berhasil menghancurkan instalasi nuklir Iran. Namun serangan Stuxnet telah menyebabkan kerusakan lebih dari 100 ribu komputer di Eropa. Pusat-pusat nuklir Rusia pun mengalami gangguan. Begitu pula 7.600 pembangkit listrik dan pabrik-pabrik yang aktif di bidang industri kimia dan petrokimia di seluruh dunia serta 30 ribu situs internet juga terinfeksi virus.

Berkaca dari peristiwa tersebut, kata Abdurrahman, kini sudah dibuat traktat untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. "Pada traktat, bagi negara yang memiliki senjata nuklir, harus mulai lucuti. Sebab persenjataan nuklir itu memiliki daya hancur tiga kali lipat," kata dia.

Lebih lanjut Abdurrahman mengatakan tidak hanya negara yang diserang senjata nuklir saja yang dapat hancur. Negara yang menciptakan senjata nuklir pun berpotensi terkena serangan pengembangan senjata nuklirnya sendiri.

"Nuklir itu bisa dicuri. Maka bukan terorisme yang disalahkan. Tapi negara yang mempraktekkan itu yang harus dipersalahkan," ujar Abdurrahman.

"Mengingat potensi serangan cyber ke infrastruktur nuklir semakin besar. Maka sudah seharusnya, negara pemilik nuklir wajib memproteksi lingkungan nuklirnya agar tidak membahayakan berbagai pihak," pungkasnya.

(ash/ash)







Hide Ads