Symantec kembali mengingatkan bahaya tentang ancaman virus, malware, dan serangan cyber sejenisnya. Ancaman bahaya ini dikhawatirkan semakin menjadi-jadi mengingat sebentar lagi kita akan memasuki musim liburan akhir tahun.
Tak cuma pengguna retail saja yang diingatkan perusahaan sekuriti internet ini, namun juga para pengusaha korporasi besar dan UKM. Ancaman untuk segmen korporasi bisa datang dari banyak sisi, khususnya pengguna data center, cloud, dan virtualisasi.
"Tentu kita masih ingat, pernah ada kebakaran data center di Jakarta. Belum lama ini juga ada bencana alam angin topan di Filipina. Dari musibah ini saja sudah bikin pusing, apalagi ditambah dengan banyaknya ancaman dari virus, malware, dan sejenisnya," kata Raymond Goh, Senior Regional Director, System Engineering and Alliences, Asia South Region Symantec, di Hotel Four Seasons, Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bisnis harus berjalan 24x7. Kami punya hitung-hitungan betapa cost untuk tiap downtime begitu tinggi. Organisasi dengan 1.000 karyawan, misalnya. Kerugian dari downtime ini bisa mencapai USD 1,1 juta per jam. Untuk manufaktur, kerugian per jamnya USD 1,6 juta," kata Raymond.
Kerugian dari lumpuhnya server, data center, virtualisasi, cloud, dan sejenisnya ini juga bisa membuat perusahaan telekomunikasi rugi besar. Tiap lumpuh satu jam, kata dia, kerugiannya mencapai USD 2 juta. Namun angka kerugian lebih besar lagi bisa menimpa firma keuangan, tiap lumpuh satu jam bisa rugi USD 6,5 juta.
"Jujur saja, dampak downtime ini tak seberapa imbasnya ke revenue. Tapi kerugian sebenarnya adalah hancurnya reputasi perusahaan. Belum lagi produktivitas karyawan juga akan turun drastis. Sebab, dari downtime ini 40% operasional akan mengalami error, 40% aplikasi akan mengalami kegagalan, sementara 20% lainnya berasal dari bencana yang menimpa hardware, OS, power, dan lainnya," sesal Raymond.
Symantec juga mengingatkan, di saat bencana alam terjadi, para bos maupun teknisi tentu kesulitan untuk mengoperasikan perusahaan. Padahal, bisnis harus jalan terus, pelanggan harus tetap dilayani. Hal itu jelas sulit, mengingat kata Raymond, di saat bencana semua orang sibuk memikirkan dirinya masing-masing.
"Itu sebabnya, di sini otomasi bisnis harus berjalan. Otomasi ini harus terus diuji coba, sebab bisa saja saat terjadi bencana malah tidak bisa jalan. Seperti orang belajar saja, kalau tidak diasah terus ya tidak akan pintar dan sigap. Apalagi kalau ditambah ancaman serangan cyber," pungkasnya.
Disebutkan oleh Raymond, server data center belakangan ini kerap jadi target utama untuk pembobolan data dan penyebaran virus. Data yang dipaparkan Symantec cukup mengkhawatirkan, selain jadi target utama, 97% dari data yang dicuri itu pun ternyata didapatkan dari hasil pembobolan server.
(rou/ash)