Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Tender Wimax Diganggu 'Dedemit Maya'

Tender Wimax Diganggu 'Dedemit Maya'


- detikInet

Jakarta - Tender broadband wireless access (BWA) alias Wimax melalui akses internet (e-auction) telah memasuki tahapan hari kedua--dari tiga hari tender. Sejauh ini, 21 peserta tender belum ada yang mundur. Namun jalannya lelang, sempat diganggu insiden penyusupan 'dedemit maya'.

"Di hari kedua ini ada gangguan hacker yang coba mengubah penawaran harga bidding di server kami," ungkap Kepala Pusat Informasi Depkominfo, Gatot S Dewa Broto, kepada detikINET di Jakarta, Rabu (15/7/2009).

Gatot menyebutkan ada lima kali percobaan yang dilakukan sang penyusup untuk mengubah harga. Serangan ini ditujukan ke perusahaan telekomunikasi tertentu yang sayangnya tak boleh disebutkan namanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untungnya kami bisa mengantisipasi insiden ini sehingga tender tetap berjalan aman. Kami juga telah mengkonfirmasikan angka penawaran ke masing-masing peserta tender dan sejauh ini tak ada yang berubah," jelasnya lebih lanjut.

Lelang pita frekuensi 2,3 GHz ini berlangsung selama tiga hari. Dimulai sejak Selasa kemarin, lelang akan berakhir Kamis esok. Lelang yang menggunakan akses internet publik ini sejatinya sudah dikhawatirkan banyak pihak jauh-jauh hari. Namun pemerintah tetap berkeras melangsungkan e-auction demi menyukseskan e-government.

Upaya penyusupan ke server lelang yang bertempat di kantor Ditjen Postel ini mungkin hanya upaya awal. Saat final esok hari nanti, kemungkinan akan banyaknya upaya untuk mengubah angka penawaran, sudah pasti bisa makin banyak.

"Kami tak mau takabur, namun Insya Allah kami bisa mengantisipasinya. Hal ini sudah kami prediksi saat memulai simulasi tender," tukas Gatot.

Menurut dia, masing-masing peserta tender tak mengetahui alamat IP (protokol internet) para pesaingnya karena dirahasiakan oleh Postel. Itu sebabnya, yang jadi sasaran tembak para peretas ialah dengan coba menembus server milik Postel.

Tidak Transparan

Kekhawatiran ini juga sempat disuarakan Direktur Kebijakan Publik Lembaga Pemberdayaan dan Pengembangan Masyakarat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala. Ia menilai, e-auction sangat besar indikasi kecurangannya karena bisa disusupi.

"Harusnya pemerintah lebih terbuka agar publik bisa ikut mengawasi," kata Kamilov di lain kesempatan. Mantan anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) periode 2006-2009 ini menilai tender tidak transparan. Tidak seperti tender 3G dan Universal Service Obligation (USO).

Pandangan ini secara tidak langsung dibantah Gatot. Menurutnya pemerintah sengaja baru akan membuka angka penawaran saat final esok hari.

"Berkaca dari tender USO tempo hari saat final Telkom melawan ACeS, buntutnya sangat tidak baik karena tak ada privasi. Jadi yang kami lakukan saat ini demi privasi namun tetap menjaga objektivitas, dimana hal ini juga diinginkan peserta tender. Namun saat final besok, tak ada pilihan lain. Harga akan kami buka semua," pungkas Gatot. (rou/wsh)





Hide Ads