Selama ini, ketersediaan air kerap dianggap sebagai faktor utama yang menentukan wilayah tempat manusia purba bisa bertahan hidup. Namun, penelitian terbaru di Semenanjung Arab mengungkap bahwa ada faktor lain yang tidak kalah penting, yakni ketersediaan batu yang dapat digunakan untuk membuat peralatan.
Temuan ini berasal dari penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature pada 28 Oktober 2026. Studi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan sumber air saja tidak cukup untuk menjelaskan lokasi permukiman manusia purba di wilayah gurun.
Penelitian berfokus pada Rub' al Khali, gurun pasir luas di Semenanjung Arab yang dikenal sebagai salah satu hamparan pasir terbesar di dunia. Wilayah ini pernah mengalami periode iklim lebih basah ketika hujan monsun membentuk danau, lahan basah, serta padang rumput.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi tersebut semestinya menyediakan lingkungan yang mendukung kehidupan manusia purba. Namun, bukti arkeologis justru lebih banyak ditemukan di tepian gurun, bukan di bagian tengahnya.
Untuk mengungkap penyebabnya, tim peneliti yang dipimpin Jeffrey I. Rose dari University of Algarve, Portugal, melakukan survei lapangan sepanjang sekitar 1.500 kilometer di bagian tengah Rub' al Khali.
Mereka memeriksa 125 lokasi di antara bukit-bukit pasir. Peneliti mencari endapan danau purba, mengidentifikasi jenis batuan, serta menelusuri kemungkinan adanya perkakas batu atau jejak aktivitas manusia.
Hasilnya cukup mengejutkan. Tim menemukan bukti keberadaan danau purba di 55 lokasi, tetapi tidak menemukan artefak batu maupun tanda-tanda hunian manusia purba di sepanjang jalur survei tersebut. Padahal, temuan berupa fosil kerang dan cangkang telur burung unta menunjukkan bahwa kawasan itu pernah memiliki sumber air tawar dan mendukung kehidupan.
Peneliti kemudian menggabungkan hasil survei dengan peta geologi serta rekonstruksi jaringan air di Semenanjung Arab. Model tersebut juga dibandingkan dengan 362 situs arkeologi yang telah diketahui di kawasan tersebut.
Hasil pemodelan memperlihatkan bahwa sekitar 57% wilayah yang dinilai memiliki akses terhadap air ternyata tidak mempunyai jenis batuan yang cocok untuk pembuatan perkakas. Dengan kata lain, meskipun air tersedia, manusia purba belum tentu bisa menetap di suatu tempat apabila mereka kesulitan memperoleh bahan untuk membuat peralatan.
Batu dan Air Menentukan Persebaran Manusia Purba
Bagi manusia pada masa Paleolitikum, batu merupakan bahan penting untuk membuat berbagai perkakas, mulai dari alat pemotong hingga peralatan berburu dan mengolah makanan.
Batu yang dapat dibentuk melalui proses pemangkasan atau pemecahan tertentu memungkinkan manusia menghasilkan alat dengan sisi tajam. Karena itu, lokasi yang memiliki sumber air tetapi tidak menyediakan bahan baku perkakas bisa menjadi tempat yang kurang mendukung kehidupan dalam jangka panjang.
Dalam publikasinya, para peneliti memperingatkan bahwa model migrasi manusia purba yang tidak memperhitungkan faktor geologi berpotensi memberikan gambaran keliru mengenai wilayah yang layak dihuni.
"Model persebaran yang mengabaikan kondisi geologi bahan baku dapat secara sistematis melebih-lebihkan jangkauan wilayah yang dapat dihuni oleh populasi yang bergantung pada perkakas batu," tulis para peneliti seperti dikutip dari Phys.org.
Mereka juga menegaskan bahwa ketersediaan air bukan satu-satunya penentu lokasi hunian manusia purba.
"Apakah populasi manusia purba menetap di suatu lanskap gurun bergantung pada ketersediaan batu yang tersingkap di permukaannya, sama besarnya dengan ketergantungan mereka pada air yang mengisi cekungan-cekungan di wilayah tersebut," tulis tim peneliti.
Temuan ini menunjukkan bahwa wilayah Arabia yang dahulu lebih hijau bukanlah kawasan yang seluruhnya bisa dihuni manusia purba. Persebaran sumber air dan batuan yang dapat diolah menciptakan kantong-kantong wilayah yang mendukung kehidupan, sementara kawasan di antaranya belum tentu layak untuk permukiman jangka panjang.
Penelitian ini juga memberi pelajaran lebih luas bagi studi migrasi manusia purba. Untuk memahami bagaimana manusia menyebar dan bertahan di lingkungan kering, para ilmuwan perlu mempertimbangkan bukan hanya iklim dan air, tetapi juga sumber daya geologi yang menunjang teknologi mereka.
(rns/fay)