Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Permafrost di Kanada Longsor, Bongkah Es Sebesar Rumah Jatuh Tak Terkendali

Permafrost di Kanada Longsor, Bongkah Es Sebesar Rumah Jatuh Tak Terkendali


Rachmatunnisa - detikInet

Pemandangan udara Sungai Redstone di Wilayah Barat Laut Kanada setelah tanah longsor besar yang jadi penelitian baru bagi sains.
Pemandangan udara Sungai Redstone di Wilayah Barat Laut Kanada setelah tanah longsor besar yang jadi penelitian baru bagi sains. Foto: Duane Froese via Live Science
Jakarta -

Perubahan iklim memicu fenomena longsor yang tidak biasa di wilayah Arktik Kanada. Tanah beku yang selama ribuan tahun relatif stabil kini terlepas dari lereng dan meluncur dalam bongkahan besar, dengan sebagian balok material beku mencapai tinggi sekitar 10 meter atau setara rumah dua lantai.

Fenomena ini disebut permafrost detachment slides (PDS), yakni longsor ketika lapisan permafrost terlepas dari bagian bawahnya dan bergerak menuruni lereng sebagai massa besar yang masih membeku. Peneliti menyebutnya sebagai jenis longsor berbeda dari proses pencairan permafrost yang selama ini dikenal.

Dikutip dari Live Science, penelitian yang dipublikasikan di jurnal Geophysical Research Letters pada 23 September 2026 mengidentifikasi fenomena ini di wilayah Northwest Territories, Kanada. Para peneliti menduga kombinasi pemanasan iklim dan dampak kebakaran hutan menjadi pemicunya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Joseph Young, pemimpin penelitian yang mengerjakan studi ini sebagai bagian dari program doktoralnya di University of Alberta, menggambarkan perubahan tersebut sebagai sesuatu yang mendadak.

"Wilayah ini sebelumnya stabil, lalu seolah-olah sebuah sakelar tiba-tiba berubah," kata Young.

ADVERTISEMENT

Permafrost merupakan lapisan tanah, sedimen, atau batuan yang suhunya tetap berada pada titik beku atau lebih rendah selama setidaknya dua tahun berturut-turut. Lapisan ini banyak ditemukan di kawasan Arktik dan wilayah lintang tinggi lainnya.

Ketika permafrost menghangat dan mencair, material di dalamnya biasanya kehilangan kekuatan. Tanah yang mencair dapat berubah menjadi campuran lumpur dan air, lalu bergerak menuruni lereng.

Namun, longsor yang ditemukan di Kanada menunjukkan mekanisme berbeda. Material yang bergerak tidak seluruhnya mencair menjadi lumpur, melainkan mencakup bongkahan besar yang masih membeku.

"Biasanya, pada permafrost, semuanya mencair dan meleleh menjadi bubur, lalu bergerak menuruni lereng seperti lumpur," ujar Young.

"Tetapi pada longsor besar ini, kami menemukan bongkahan material yang masih membeku di antara puing-puingnya," lanjutnya.

Sebagian bongkahan tersebut memiliki tinggi sekitar 10 meter. Temuan ini menunjukkan bahwa yang bergerak bukan sekadar lapisan tanah permukaan yang mencair, melainkan bagian besar dari lapisan permafrost itu sendiri.

Peneliti mempelajari dua kejadian besar di lembah sungai Northwest Territories. Longsor pertama terjadi di Johnson River Valley pada 2017. Peristiwa ini memindahkan lebih dari 18 juta meter kubik tanah dan batuan.

Sementara itu, longsor di Redstone River Valley pada 2018 memindahkan sekitar 4,5 juta meter kubik material. Jejak longsor yang lebih kecil membentang sekitar 1,2 kilometer, sedangkan longsor yang lebih besar mengoyak lereng hingga sekitar 3,2 kilometer.

Untuk memahami prosesnya, tim menggabungkan pengamatan lapangan, citra satelit, pengukuran geofisika, dan pemodelan suhu tanah. Mereka juga mengalirkan arus listrik ke dalam tanah untuk memperkirakan kedalaman lapisan permafrost.

Hasilnya memperlihatkan bahwa longsor tersebut berkaitan dengan pencairan yang terjadi dari bagian bawah lapisan beku, bukan hanya dari permukaannya.

Kedua kejadian ini merupakan contoh longsor permafrost berskala besar yang mekanismenya berbeda dari longsor akibat pencairan biasa.

Salah satu temuan penting penelitian ini adalah keterkaitan antara kebakaran hutan dan perubahan kondisi permafrost. Di kawasan penelitian, suhu permafrost meningkat sekitar 0,3 derajat Celsius setiap dekade sejak pemantauan dimulai pada 1980. Di sekitar lokasi juga terjadi kebakaran hutan besar pada 1995.

Peneliti menduga panas akibat kebakaran, bersama pemanasan iklim jangka panjang, secara bertahap merambat lebih dalam ke tanah. Dampaknya tidak langsung terlihat karena lapisan permafrost yang tebal membutuhkan waktu untuk merespons perubahan suhu di permukaan.

Young menjelaskan bahwa jeda waktu tersebut terlihat pada kejadian di kedua lembah sungai.

"Kami mengalami kebakaran pada 1995, lalu 20 tahun kemudian mulai muncul banyak gangguan yang meluas," kata Young.

Mekanismenya berlangsung secara bertahap. Panas dari kebakaran dan kenaikan suhu mempercepat pencairan di bagian atas serta mengubah kondisi tanah. Retakan yang terbentuk kemudian memungkinkan air meresap lebih dalam, sehingga pencairan di bagian bawah lapisan permafrost ikut meningkat.

Ketika bagian dasar kehilangan kestabilan, seluruh lapisan beku dapat terlepas dan meluncur menuruni lereng. Menurut pemodelan peneliti, proses rambatan pencairan hingga kedalaman sekitar 20 meter dapat memerlukan waktu dua dekade. Hal ini membantu menjelaskan mengapa longsor besar dapat muncul bertahun-tahun setelah kebakaran terjadi.

Dengan demikian, dampak kebakaran hutan di kawasan permafrost tidak selalu berakhir ketika api padam. Perubahan pada kondisi tanah dapat terus berkembang selama bertahun-tahun sebelum akhirnya memicu keruntuhan lereng.

Dua longsor yang diteliti ternyata bukan satu-satunya kejadian di kawasan tersebut. Young menyebut terdapat lebih dari 150 longsor sejenis di wilayah itu.

Sebagian besar berukuran lebih kecil, tetapi masing-masing umumnya tetap memindahkan lebih dari satu juta meter kubik material.

Longsor tersebut juga dapat mengubah sistem sungai. Dua kejadian yang diteliti membendung aliran sungai dan membentuk danau baru, sekaligus membawa sedimen dalam jumlah besar ke perairan di hilir.

Hingga penelitian dilaporkan, lokasi yang terpencil membuat longsor tersebut belum merusak infrastruktur. Namun, dampaknya terhadap bentang alam dan ekosistem sungai tetap menjadi perhatian.

Material yang terbuka setelah longsor juga masih dapat mengalami pencairan lanjutan. Proses ini berpotensi memicu longsor susulan dan mengubah aliran air serta distribusi sedimen.

Para peneliti memperingatkan bahwa fenomena ini tidak terbatas pada dua lembah sungai yang mereka kaji. Sejumlah wilayah di Kanada dan Alaska memiliki lapisan permafrost dengan ketebalan sekitar 20-40 meter, kondisi yang dinilai rentan terhadap mekanisme longsor serupa.

Risikonya dapat meningkat jika pemanasan terus berlangsung dan kebakaran hutan di wilayah lintang tinggi menjadi lebih intens. Young menyebut fenomena tersebut sebagai gambaran kemungkinan perubahan yang akan dihadapi kawasan-kawasan itu pada masa mendatang.

"Ini hampir seperti gambaran sekilas tentang apa yang mungkin kita hadapi di wilayah-wilayah ini seiring berubahnya dinamika kebakaran hutan," ujarnya.

Penelitian ini tidak menyatakan bahwa semua wilayah permafrost akan mengalami longsor serupa. Kerentanan bergantung pada ketebalan lapisan beku, kondisi suhu, karakteristik lereng, dan riwayat gangguan seperti kebakaran.

Namun, penemuan tersebut memperlihatkan bahwa pemanasan permafrost dapat menghasilkan bentuk keruntuhan lereng yang sebelumnya belum dikenali secara luas.

Ketika lapisan tanah beku kehilangan kestabilan dari bagian bawah, dampaknya bukan hanya pencairan perlahan. Dalam kondisi tertentu, jutaan meter kubik material dapat bergerak sekaligus, mengubah lereng, membendung sungai, dan menciptakan danau baru.

Bagi para ilmuwan, fenomena ini menjadi peringatan bahwa dampak perubahan iklim di kawasan Arktik dapat berkembang dengan cara yang lebih kompleks daripada yang diperkirakan sebelumnya.



(rns/fay)








Hide Ads