Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Perang Brutal Semut di California, 15 Juta Mati di Satu Pertempuran

Perang Brutal Semut di California, 15 Juta Mati di Satu Pertempuran


Fino Yurio Kristo - detikInet

Perang semut
Ilustrasi perang semut. Foto: entomologytoday
Jakarta -

Di San Diego, perang brutal antara superkoloni semut yang saling bersaing telah berkecamuk puluhan tahun, menewaskan jutaan semut tiap tahunnya. Meski konflik ini terjadi dalam skala jauh lebih kecil, kemiripannya yang kelam dengan peperangan manusia mengejutkan ilmuwan.

Pasukan semut yang bertikai adalah semut Argentina, yang sesuai namanya, asli Amerika Selatan, bukan California. Spesies ini (Linepithema humile) sangat teritorial dan agresif terhadap serangga lain. Dengan antena dan sinyal kimiawi, mereka mengidentifikasi apakah semut lain musuh dari luar atau kerabat mereka.

Sepanjang abad ke-19 dan mungkin sebelumnya, spesies ini tak sengaja tersebar ke seluruh dunia melalui pelayaran trans Atlantik. Semut-semut ini menumpang pada muatan kargo di Amerika Selatan lalu tersebar di berbagai belahan dunia, mulai Eropa hingga Jepang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perang Mini di Pesisir California

Seperti dijelaskan dalam makalah tahun 2006 di jurnal Molecular Ecology, California selatan adalah rumah bagi lima superkoloni semut Argentina yang saling bersaing dan tidak akur.

Yang paling dominan menguasai jaringan sarang saling terhubung secara longgar sepanjang 1.000 kilometer di pesisir California. Wilayah ini berbatasan dengan setidaknya tiga dari empat koloni yang lebih kecil, di mana masing-masing menguasai wilayah mereka sendiri yang seukuran kota.

ADVERTISEMENT

Para ilmuwan dari UC San Diego menjelaskan perbatasan sepanjang berkilometer antar wilayah tersebut sangatlah tegas, sering kali hanya dibatasi jarak beberapa meter. Ketika kelompok semut yang berbeda bertemu, yang sepertinya sering terjadi, bentrokan brutal meletus.

Pertarungan antar superkoloni dilaporkan terjadi pada 40 persen kunjungan lapangan oleh para peneliti, dengan rata-rata sekitar 15.000 kematian per pertempuran.

Selama berbulan-bulan, skala kematian meningkat hingga tingkat mencengangkan. Peneliti memperkirakan setidaknya 15 juta semut pekerja tewas dalam satu pertempuran perbatasan di sekitar salah satu koloni kecil dekat Danau Hodges di utara San Diego, selama masa studi enam bulan mereka.

Berdasarkan satu insiden ini saja, tidak berlebihan rasanya membayangkan miliaran semut telah mati di seluruh wilayah tersebut selama puluhan tahun.

Tanpa Akhir yang Jelas

Yang luar biasa adalah batas-batas wilayah nyaris tidak bergeser selama berbulan-bulan penelitian. Garis perbatasan mungkin maju mundur, tapi tak ada pihak yang terus-menerus memenangkan wilayah. Superkoloni-superkoloni itu terjebak perang abadi, kehilangan banyak nyawa tapi tak mendapat wilayah baru.

Kebuntuan ini mirip dengan Blok Barat pada Perang Dunia Pertama, di mana Blok Sekutu dan Blok Sentral menggali parit dan saling menghancurkan satu sama lain, dengan garis depan yang nyaris tak bergeser selama bertahun-tahun.

Namun, tidak seperti para prajurit Perang Dunia Pertama, kebuntuan superkoloni ini mungkin takkan pernah berakhir.

Menulis untuk Scientific American tahun 2011, ahli biologi Mark W. Moffett menjelaskan semut Argentina tergolong tidak biasa karena tidak memiliki dear enemy effect, yakni fenomena di mana hewan teritorial menunjukkan lebih sedikit agresi terhadap musuh tetangga yang sudah dikenal dibanding pihak asing tidak dikenal, setelah terjadinya pertarungan panjang.

Melalui efek ini, semacam zona demiliterisasi akhirnya dapat muncul di sepanjang perbatasan tempat di mana kekerasan tidak lagi terjadi. Di bawah kondisi yang tepat, kedua kubu wilayah dapat memisahkan diri satu sama lain. Pertumpahan darah pun berhenti.

Namun dikutip detikINET dari IFL Science, Moffett berargumen semut Argentina tak punya keistimewaan ini. Di habitat aslinya di Amerika Selatan, mereka sering bertarung memperebutkan dataran banjir. Koloni yang bersaing akan saling menyerang, tapi berhenti tiap air pasang. Konflik tak pernah terselesaikan tuntas, mereka terprogram untuk terus bertarung.



(fyk/vmp)
TAGS




Hide Ads