×
Ad

'Mulut Neraka' Diduga Kembali Diisi Magma, Warga Sekitar Waspada

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 08 Okt 2026 05:44 WIB
Gunung Masaya di Nikaragua. Foto: INTI OCON via Science Alert
Jakarta -

Gunung Masaya di Nikaragua punya julukan mengerikan, 'Mouth of Hell' alias Mulut Neraka. Kini, gunung api tersebut kembali menarik perhatian ilmuwan setelah penelitian menemukan bukti bahwa magma kemungkinan sedang mengisi kembali salah satu reservoir di bawahnya.

Masaya merupakan salah satu gunung api paling aktif di Nikaragua. Gunung ini berjarak sekitar 20 kilometer dari Managua, ibu kota Nikaragua, dan berada dalam radius sekitar 21 kilometer dari populasi sekitar 2 juta orang yang kini diminta waspada.

Penelitian terbaru yang diterbitkan di Geophysical Research Letters mengungkap bahwa sistem magma Masaya ternyata lebih kompleks daripada yang diperkirakan. Ilmuwan menemukan indikasi adanya dua reservoir magma aktif, masing-masing berada pada kedalaman berbeda.

Julukan Mulut Neraka sudah melekat pada Masaya sejak masa penaklukan Spanyol di Nikaragua. Ketika para penakluk Spanyol melihat danau lava di kawah Masaya pada awal abad ke-16, pemandangan tersebut dianggap menyerupai pintu menuju neraka. Masaya bahkan menjadi salah satu danau lava permanen pertama yang diamati orang Eropa.

Secara geologi, Masaya merupakan gunung api perisai basaltik. Aktivitas modernnya lebih banyak berupa pelepasan gas, pembentukan danau lava, serta ledakan kecil yang membersihkan saluran kawah.

Namun, sejarahnya menunjukkan bahwa Masaya juga mampu menghasilkan letusan eksplosif besar. Para ilmuwan karena itu ingin memahami bagaimana magma bergerak di bawah gunung api tersebut.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan menggunakan data Sentinel-1, satelit radar milik program Copernicus, untuk memantau perubahan permukaan Masaya. Data yang dianalisis mencakup periode Januari 2018 hingga Februari 2024. Teknik yang digunakan disebut Interferometric Synthetic Aperture Radar atau InSAR, yang memungkinkan perubahan kecil pada permukaan tanah dideteksi dari luar angkasa.

Hasilnya menunjukkan pola perubahan yang menarik. Pada 2018 hingga pertengahan 2022, wilayah di utara Kawah Santiago mengalami pergerakan menjauh dari satelit atau menunjukkan tanda deflasi.

Namun, mulai pertengahan 2022 hingga 2024, arah pergerakannya berubah. Permukaan mulai bergerak menuju satelit dengan perubahan sekitar 4 milimeter per tahun. Menurut peneliti, perubahan tersebut kemungkinan menunjukkan inflasi reservoir magma akibat adanya pasokan magma baru dari kedalaman.



Simak Video "PVMBG Jelaskan Sebab Sejumlah Gunung Api Erupsi Berdekatan"


(rns/fay)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork