Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
'Mulut Neraka' Diduga Kembali Diisi Magma, Warga Sekitar Waspada

'Mulut Neraka' Diduga Kembali Diisi Magma, Warga Sekitar Waspada


Rachmatunnisa - detikInet

Gunung Api Masaya Mulut Neraka
Gunung Masaya di Nikaragua. Foto: INTI OCON via Science Alert
Jakarta -

Gunung Masaya di Nikaragua punya julukan mengerikan, 'Mouth of Hell' alias Mulut Neraka. Kini, gunung api tersebut kembali menarik perhatian ilmuwan setelah penelitian menemukan bukti bahwa magma kemungkinan sedang mengisi kembali salah satu reservoir di bawahnya.

Masaya merupakan salah satu gunung api paling aktif di Nikaragua. Gunung ini berjarak sekitar 20 kilometer dari Managua, ibu kota Nikaragua, dan berada dalam radius sekitar 21 kilometer dari populasi sekitar 2 juta orang yang kini diminta waspada.

Penelitian terbaru yang diterbitkan di Geophysical Research Letters mengungkap bahwa sistem magma Masaya ternyata lebih kompleks daripada yang diperkirakan. Ilmuwan menemukan indikasi adanya dua reservoir magma aktif, masing-masing berada pada kedalaman berbeda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Julukan Mulut Neraka sudah melekat pada Masaya sejak masa penaklukan Spanyol di Nikaragua. Ketika para penakluk Spanyol melihat danau lava di kawah Masaya pada awal abad ke-16, pemandangan tersebut dianggap menyerupai pintu menuju neraka. Masaya bahkan menjadi salah satu danau lava permanen pertama yang diamati orang Eropa.

Secara geologi, Masaya merupakan gunung api perisai basaltik. Aktivitas modernnya lebih banyak berupa pelepasan gas, pembentukan danau lava, serta ledakan kecil yang membersihkan saluran kawah.

ADVERTISEMENT

Namun, sejarahnya menunjukkan bahwa Masaya juga mampu menghasilkan letusan eksplosif besar. Para ilmuwan karena itu ingin memahami bagaimana magma bergerak di bawah gunung api tersebut.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan menggunakan data Sentinel-1, satelit radar milik program Copernicus, untuk memantau perubahan permukaan Masaya. Data yang dianalisis mencakup periode Januari 2018 hingga Februari 2024. Teknik yang digunakan disebut Interferometric Synthetic Aperture Radar atau InSAR, yang memungkinkan perubahan kecil pada permukaan tanah dideteksi dari luar angkasa.

Hasilnya menunjukkan pola perubahan yang menarik. Pada 2018 hingga pertengahan 2022, wilayah di utara Kawah Santiago mengalami pergerakan menjauh dari satelit atau menunjukkan tanda deflasi.

Namun, mulai pertengahan 2022 hingga 2024, arah pergerakannya berubah. Permukaan mulai bergerak menuju satelit dengan perubahan sekitar 4 milimeter per tahun. Menurut peneliti, perubahan tersebut kemungkinan menunjukkan inflasi reservoir magma akibat adanya pasokan magma baru dari kedalaman.

Ada Dua Reservoir Magma

Pemodelan data satelit menunjukkan reservoir utama, yang disebut Masaya Central Reservoir (MCR), berada sekitar 3,2 kilometer di bawah permukaan dan di bagian tengah kaldera. Reservoir tersebut mengalami perubahan volume sekitar 450 ribu meter kubik pada periode 2022-2024 dalam model penelitian.

Sementara itu, ilmuwan juga menemukan indikasi adanya reservoir kedua yang jauh lebih dangkal, sekitar 200 meter di bawah Kawah Santiago. Berbeda dengan reservoir utama, bagian dangkal ini justru terus menunjukkan tanda deflasi selama periode pengamatan.

Dengan demikian, sistem magma Masaya bukanlah satu ruang besar yang sederhana. Ada setidaknya dua bagian sistem penyimpanan magma yang menunjukkan perilaku berbeda. Peneliti menyebut struktur seperti ini memiliki kemiripan dengan sistem magma di Gunung Kilauea, Hawaii, yang juga memiliki reservoir dangkal dan reservoir lebih dalam.

Apakah ini tanda Masaya segera meletus? Belum tentu. Temuan bahwa reservoir magma mengalami inflasi tidak berarti letusan besar akan segera terjadi. Peneliti justru menekankan bahwa memahami perubahan sistem magma diperlukan untuk mengetahui bagaimana Masaya dapat berpindah dari kondisi relatif tenang menuju aktivitas lava yang lebih aktif.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan memperkirakan bahwa jika tren inflasi terus berlanjut, aktivitas efusif atau aktivitas lava dapat kembali meningkat. Namun, diperlukan penambahan magma yang cukup besar sebelum kondisi tersebut dapat menghasilkan periode aktivitas seperti kemunculan danau lava sebelumnya.

Studi ini juga tidak menyatakan bahwa Masaya sedang berada di ambang letusan besar. Sebaliknya, temuan tersebut memberikan petunjuk mengenai proses yang berlangsung jauh di bawah permukaan dan dapat membantu ilmuwan memantau perubahan aktivitas gunung api.

Masaya menarik perhatian bukan hanya karena sejarahnya sebagai Mulut Neraka, tetapi juga karena lokasinya yang dekat dengan populasi besar. Gunung ini berada sekitar 20 kilometer dari Managua dan dalam radius sekitar 21 kilometer terdapat sekitar 2 juta orang. Karena itu, perubahan sistem magma di bawah Masaya penting untuk dipantau.

Peneliti menyebut pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana magma bergerak dari reservoir dalam menuju bagian dangkal dapat membantu meningkatkan pemantauan dan prakiraan aktivitas erupsi.

Dengan kata lain, satelit tidak sedang 'melihat' magma secara langsung. Ilmuwan membaca perubahan sangat kecil pada permukaan tanah, kemudian menggunakan model geofisika untuk memperkirakan apa yang terjadi jauh di bawahnya.

Temuan ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa perubahan kecil di permukaan dapat menjadi petunjuk mengenai dinamika magma yang sedang berlangsung di kedalaman. Seperti ditulis para peneliti, sistem pipa magma Masaya perlu dipahami dengan baik untuk menilai bahaya vulkanik secara akurat dan tepat waktu.

Jadi, Mulut Neraka Masaya memang menunjukkan tanda magma kembali memasok reservoirnya, tetapi temuan tersebut bukan ramalan bahwa letusan besar akan segera terjadi. Yang terungkap adalah sistem magma di bawah gunung tersebut ternyata dinamis dan memiliki setidaknya dua reservoir dengan perilaku berbeda.



(rns/fay)






Hide Ads