Craig Hamilton-Parker, seorang peramal yang mengaku sebagai 'Prophet of Doom' atau Nabi Malapetaka menyebut prediksi mengerikan tentang kemungkinan pandemi, beberapa hari sebelum berita tentang kemungkinan wabah penyakit menular tersebar.
Dalam siaran langsung yang dibagikan pada 24 September di akun YouTube-nya, Hamilton-Parker yang sebelumnya pernah mengklaim telah memprediksi pandemi COVID-19 dan kematian Ratu Elizabeth II secara akurat, sesumbar bahwa pandemi penyakit bakteri yang menyerang dada akan segera datang.
Pernyataan ini datang beberapa hari sebelum ramai kabar kematian seorang pekerja laboratorium di Siberia, Rusia, sehingga memicu kekhawatiran tentang kemungkinan infeksi pes paru (pneumonic plague). Namun hingga kini, penyebab kematiannya belum dikonfirmasi sebagai pes.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pekerja berusia 28 tahun yang diidentifikasi sebagai Darya Shipilova merupakan teknisi di Irkutsk Anti-Plague Research Institute, lembaga yang memang melakukan penelitian mengenai penyakit pes dan patogen.
Menurut laporan yang dikutip dari LadBible, Shipilova dirawat di rumah sakit pada 29 September 2026 dengan pneumonia berat dan meninggal pada 2 Oktober 2026. Otoritas Rusia menyebut pneumonia di balik kematiannya, dengan penyebab yang belum diketahui.
Badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, juga mengatakan tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaan korban dalam sampel yang diperiksa. Meski demikian, laporan media lokal menyebut Shipilova kemungkinan terpapar bakteri penyebab pes setelah sebuah tabung reaksi pecah di laboratorium. Informasi ini belum dikonfirmasi oleh otoritas Rusia.
Karena adanya kemungkinan paparan penyakit berbahaya, sekitar 200 orang yang pernah melakukan kontak dengannya dilaporkan ditempatkan dalam pemantauan medis. Sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah tersebut juga menerapkan langkah karantina sebagai tindakan pencegahan.
Apa Itu Pes Paru?
Pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis, yang secara alami dapat ditemukan pada mamalia kecil dan kutu yang menginfeksinya. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada tiga bentuk utama pes, yakni pes bubonik, pes septikemia, dan pes paru.
Pes bubonik merupakan bentuk yang paling umum. Bakteri biasanya masuk melalui gigitan kutu yang terinfeksi dan menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening. Sementara itu, pes paru menyerang paru-paru dan merupakan bentuk yang sangat serius.
WHO menyebut pes paru sebagai bentuk pes yang paling ganas. Masa inkubasinya bahkan dapat berlangsung sangat singkat, terkadang kurang dari 24 jam. Perbedaan penting pes paru dengan pes bubonik terletak pada cara penularannya.
Pes bubonik umumnya berkaitan dengan gigitan kutu yang membawa Y. pestis. Sebaliknya, pes paru dapat menyebar melalui partikel pernapasan dari orang yang terinfeksi. Artinya, penderita pes paru dapat menularkan bakteri kepada orang lain melalui droplet atau partikel pernapasan, terutama ketika terjadi kontak dekat.
WHO menyebut pes paru sangat menular dan dapat memicu wabah melalui penularan antarmanusia. Inilah alasan mengapa dugaan kasus di Siberia mendapat perhatian besar. Jika seseorang benar-benar terinfeksi pes paru, tindakan cepat diperlukan untuk menemukan dan memantau orang-orang yang melakukan kontak dekat dengannya.
Belum Ada Bukti
Sejauh ini, tidak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan gejala penyakit, sementara Rusia masih menyelidiki apakah pes paru merupakan penyebab kematian korban. WHO juga menilai risiko kesehatan masyarakat bagi populasi umum saat ini masih rendah berdasarkan informasi yang tersedia. Penilaian tersebut dapat berubah jika informasi baru ditemukan.
Pakar mikrobiologi Dr Simon Clarke dari University of Reading juga mengingatkan agar kasus ini tidak langsung disamakan dengan pandemi COVID-19.
"Laporan dari Rusia mau tidak mau memunculkan perbandingan dengan COVID-19, tetapi penting diingat bahwa pes paru adalah penyakit yang sangat berbeda. Penyakit ini disebabkan bakteri Yersinia pestis, yang terkenal sebagai penyebab Black Death dan hingga kini masih ditemukan terutama pada hewan di sejumlah wilayah Asia, Afrika, dan Amerika," ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pes paru memang sangat serius karena infeksinya telah mencapai paru-paru dan dapat menular melalui partikel pernapasan. Namun, berbeda dari banyak penyakit virus pernapasan, pes disebabkan bakteri sehingga dapat diobati dengan antibiotik jika diketahui dengan cepat.
Clarke turut mengingatkan bahwa laporan tentang tabung reaksi yang pecah belum cukup untuk menyimpulkan telah terjadi infeksi akibat kecelakaan laboratorium. Menurutnya, laboratorium dengan tingkat keamanan tinggi memiliki berbagai lapisan perlindungan, prosedur ketat, kabinet keselamatan, sistem aliran udara dan pekerja yang terlatih.
"Sebuah tabung yang pecah tidak secara otomatis menyebabkan paparan atau infeksi," sebutnya.
Ia menambahkan, hingga informasi lebih lengkap tersedia, masih sulit menentukan apakah kasus tersebut merupakan infeksi yang terjadi saat bekerja, paparan di luar laboratorium, atau tanda adanya penularan yang lebih luas.
(rns/fay)