×
Ad

Kebiasaan Buang Makanan Bikin Bumi Panas, Ini Bahaya Metana dari Sampah

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 30 Sep 2026 14:34 WIB
Ilustrasi makanan. Foto: Getty Images/kckate16
Jakarta -

Makanan yang tersisa di piring atau membusuk di tempat sampah bukan hanya terkait persoalan pemborosan. Ketika limbah makanan berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), proses pembusukannya dapat menghasilkan metana, salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global.

Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) mengungkapkan, lebih dari 1 miliar porsi makanan tidak dimakan setiap hari akibat produksi berlebih, makanan rusak, hingga perencanaan konsumsi yang buruk. Sekitar 60% makanan yang terbuang tersebut berasal dari rumah tangga.

Skala pemborosan tersebut ternyata memiliki konsekuensi terhadap iklim. UNEP menyebut limbah makanan bertanggung jawab atas hingga 10% total emisi gas rumah kaca global, hampir lima kali lipat emisi yang dihasilkan sektor penerbangan.

Masalahnya terjadi ketika sisa makanan dibuang begitu saja dan tertimbun jauh di dalam TPA. Dalam kondisi tersebut, bahan organik seperti makanan berada di lingkungan yang minim oksigen. Mikroorganisme kemudian menguraikannya dan menghasilkan gas metana (CH4).

Metana merupakan gas rumah kaca yang sangat kuat. Menurut UNEP, dalam periode 20 tahun, metana mampu memerangkap panas 86 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO2). UNEP menyebut metana bertanggung jawab atas hampir sepertiga pemanasan global yang telah terjadi hingga saat ini, sehingga pengurangan emisinya dapat memberikan dampak relatif cepat terhadap laju pemanasan.

Berbeda dari CO2 yang dapat bertahan sangat lama di atmosfer, metana memiliki masa hidup atmosfer yang lebih pendek. Artinya, mengurangi sumber emisi metana saat ini dapat memberikan manfaat iklim dalam beberapa dekade mendatang. UNEP bahkan menggambarkan pengurangan emisi metana sebagai semacam 'rem darurat' untuk pemanasan global.

"Setiap makanan yang diselamatkan, dibagikan, atau tidak terbuang berarti makanan tersebut digunakan dengan lebih baik. Itu juga berarti metana yang berhasil dihindari," kata Martin Krause, Direktur Divisi Perubahan Iklim UNEP, dikutip dari situs UNEP, Rabu (30/9/2026).

"Pada saat dunia mencari cara praktis untuk memperlambat pemanasan dengan cepat, mengatasi limbah makanan mungkin menjadi salah satu solusi iklim yang paling segera dan hemat biaya yang tersedia," ujarnya.

Krause mengatakan pencegahan limbah makanan perlu dilakukan lebih cepat agar manfaat pengurangan metana dapat diperoleh dalam waktu relatif singkat. Menurut UNEP, cara paling efektif untuk mengurangi metana dari limbah makanan adalah mencegah makanan menjadi sampah sejak awal.

Inilah salah satu tujuan program Food Waste Breakthrough, yang menargetkan pengurangan limbah makanan hingga setengahnya pada 2030. Jika target tersebut tercapai, emisi metana dapat berkurang hingga 7%.

Upaya tersebut tidak hanya menyasar rumah tangga. Pemerintah, restoran, supermarket, produsen makanan, hingga pemerintah kota juga dapat berperan. Makanan berlebih yang masih layak dikonsumsi dapat disalurkan kepada orang yang membutuhkan. Sementara itu, sistem penyimpanan dan pengelolaan stok yang lebih baik dapat mencegah makanan rusak sebelum sempat dikonsumsi.

UNEP mencontohkan Brasil yang menjalankan kebijakan untuk mengurangi limbah sebelum makanan mencapai tempat sampah. Di Rio de Janeiro, UNEP juga bekerja sama dengan pemerintah kota, sekolah, komunitas, dan pelaku bisnis makanan untuk mengurangi pemborosan.

Memang, tidak semua sisa makanan dapat dicegah. Makanan yang sudah basi atau tidak layak dikonsumsi tetap perlu dikelola. Di sinilah pemisahan sampah organik menjadi penting.



Simak Video "Video: Kenapa Musim Kemarau dan Hujan Makin Sulit Dibedakan?"


(rns/fay)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork