Taman Nasional Loango, Gabon, terjadi pengamatan serangan mematikan antara simpanse dan gorila. Kira-kira siapa yang selamat dari maut?
Melansir IFLScience, Senin (28/9/2026), Taman Nasional Loango merupakan habitat bagi simpanse maupun gorila dataran rendah barat. Selama 16 tahun, kawasan ini juga menjadi lokasi Loango Chimpanzee Project, sebuah studi mengenai hubungan di dalam maupun antar-kelompok simpanse.
Simpanse jelas merupakan spesies yang paling agresif di antara kera besar, namun selama sebagian besar masa pengamatan proyek tersebut, perilaku kekerasan mereka biasanya ditujukan kepada sesama spesiesnya atau hewan yang lebih kecil. Upaya pengamatan jangka panjang di tempat lain juga menunjukkan hal serupa.
"Interaksi antara simpanse dan gorila sejauh ini dianggap relatif tenang," ujar Profesor Simone Pika dari Universitas Osnabrück dalam sebuah pernyataan.
"Kami sering mengamati kedua spesies berinteraksi secara damai saat mencari makan di pepohonan. Rekan-rekan kami dari Kongo bahkan pernah menyaksikan interaksi yang penuh canda antara kedua spesies kera besar tersebut," imbuhnya.
Situasi berubah dua tahun lalu ketika Lara Southern, seorang mahasiswa doktoral dari Osnabrück, beserta rekan-rekannya mendengar jeritan yang biasanya menandakan permusuhan antar dua kelompok simpanse.
"Kemudian, kami mendengar suara pukulan ke dada -- perilaku khas gorila -- dan menyadari bahwa simpanse-simpanse tersebut telah bertemu dengan kelompok yang terdiri dari lima ekor gorila," kata Southern.
Pertarungan itu berlangsung selama 52 menit. Anggota tim proyek menyaksikan konflik yang lebih lama sepuluh bulan kemudian.
Dalam kedua kejadian tersebut, simpanse memanfaatkan keunggulan jumlah (masing-masing 27 lawan 5 dan 7 lawan 5) untuk mengimbangi keunggulan ukuran tubuh gorila yang jauh lebih besar. Pertarungan pertama melibatkan agresi dari kedua belah pihak, akan tetapi pada pertarungan kedua, simpanse mengejar gorila naik-turun pohon, lalu menyerang mereka saat mereka berusaha melarikan diri melalui tajuk pohon maupun di permukaan tanah.
Pada kedua kejadian itu, gorila dewasa akhirnya berhasil meloloskan diri, tapi seekor bayi gorila terpisah dari induknya dan tewas. Tiga ekor simpanse terluka dalam pertarungan pertama.
Simpanse Afrika Barat selama ini dianggap kurang agresif terhadap sesama spesiesnya dibandingkan dengan kerabat mereka di Afrika Timur. Kendati demikian, Southern mengungkapkan kepada IFLScience bahwa timnya baru saja menemukan fakta tak terduga di Loango.
Southern melihat tingkat pembunuhan tahunan antar-kelompok yang ternyata masuk kategori tertinggi di antara semua lokasi penelitian. Tentu saja, para penulis makalah ini ingin mengetahui mengapa serangan-serangan tersebut terjadi, dan mengapa hal itu baru terjadi sekarang.
Para penulis menduga bukan suatu kebetulan bahwa hutan di Gabon mulai menghasilkan lebih sedikit buah akibat perubahan iklim. Bayi gorila kedua yang mati sempat dimakan oleh simpanse, namun bayi gorila pertama tidak diperlakukan sebagai makanan (setidaknya pada awalnya) sehingga kemungkinan besar kekerasan tersebut dipicu oleh persaingan memperebutkan sumber daya, bukan sekadar tindakan memangsa secara langsung.
"Kami baru saja mulai memahami dampak persaingan terhadap interaksi antara kedua spesies kera besar di Loango ini," tutur Pika.
"Penelitian kami menunjukkan bahwa masih banyak hal yang perlu digali dan ditemukan mengenai kerabat terdekat kita yang masih hidup, dan bahwa Taman Nasional Loango, dengan mosaik habitatnya yang khas, merupakan tempat yang unik untuk melakukan hal tersebut," tandasnya.
Simak Video "Video: Melihat Feeding Time 'Komu' si Gorila Berusia 27 Tahun di Ragunan"
(ask/ask)