Kasih sayang seorang ibu ternyata tidak hanya terlihat pada manusia. Penelitian terbaru mengungkap perilaku menggemaskan induk orangutan di Kalimantan yang rela mengubah perjalanan mereka demi memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk bermain dengan teman sebaya.
Temuan ini cukup mengejutkan karena orangutan dikenal sebagai satwa yang cenderung hidup menyendiri. Namun, ketika memiliki anak, para induk ternyata menunjukkan perilaku sosial yang lebih kompleks daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Penelitian yang dilakukan selama 15 tahun di kawasan hutan Tuanan, Kalimantan, Indonesia, menemukan bahwa induk orangutan secara aktif mencari kesempatan untuk mempertemukan anak mereka dengan orangutan muda lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari Max Planck Society dan Phys.org, penelitian tersebut menunjukkan bahwa interaksi sosial anak menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan induk orangutan di habitat alaminya.
Rela Mengubah Perjalanan demi Anak Bisa Bermain
Para peneliti mengumpulkan sekitar 32.000 jam pengamatan terhadap 31 pasangan induk dan anak orangutan liar. Data tersebut digunakan untuk memahami bagaimana induk mengatur pergerakan dan interaksi sosial anak-anaknya.
Hasilnya, induk orangutan diketahui tidak selalu memilih jalur perjalanan berdasarkan kebutuhan mencari makanan. Dalam kondisi tertentu, mereka juga bergerak menuju lokasi yang memungkinkan anaknya bertemu orangutan muda lain.
Perilaku ini menarik karena orangutan harus mengeluarkan energi tambahan untuk berpindah tempat. Bagi satwa yang hidup di hutan tropis, perjalanan tersebut bukan perkara sepele karena mereka harus memanjat dan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya.
Pertemuan bermain sendiri tergolong jarang. Peneliti mencatat aktivitas tersebut hanya terjadi pada sekitar 6% hari pengamatan.
Pada hari ketika anak orangutan mendapatkan kesempatan bermain, durasi interaksinya rata-rata sekitar 20 menit.
Meski terlihat singkat, kesempatan tersebut dinilai penting karena anak orangutan memiliki peluang terbatas untuk bertemu teman sebaya di alam liar.
Saat bermain bergulat, bayi sering kali bergelantungan terbalik. Foto: Tuanan Orangutan Research Project/UZH |
Mirip Ibu Manusia yang Mengatur Jadwal Bermain
Perilaku tersebut mengingatkan pada orang tua manusia yang sengaja mengajak anaknya bertemu teman untuk bermain bersama.
Dalam bahasa Inggris, kegiatan semacam ini dikenal sebagai playdate. Namun, peneliti tidak menyatakan orangutan benar-benar membuat jadwal bermain seperti manusia.
Istilah tersebut digunakan sebagai analogi untuk menggambarkan bagaimana induk orangutan membantu menciptakan kesempatan bersosialisasi bagi anaknya.
Bermain memiliki peran penting dalam perkembangan satwa muda. Melalui interaksi dengan teman sebaya, anak orangutan dapat melatih kemampuan bergerak, berkomunikasi, serta mengenali perilaku sosial.
Hal ini menjadi semakin penting mengingat orangutan memiliki masa ketergantungan terhadap induk yang sangat panjang dibandingkan banyak mamalia lainnya.
Anak orangutan dapat menghabiskan waktu bertahun-tahun bersama induknya untuk mempelajari keterampilan bertahan hidup, mulai dari mencari makanan hingga bergerak di antara pepohonan.
Seekor induk orangutan mengamati anaknya bermain. Pertemuan-pertemuan ini membuat para induk lebih sering bepergian dan makan lebih sedikit. Foto: Tuanan Orangutan Research Project/UZH |
Ungkap Sisi Lain Kehidupan Orangutan
Temuan tersebut memberikan gambaran baru mengenai kehidupan sosial orangutan Kalimantan.
Selama ini, orangutan sering digambarkan sebagai kera besar yang lebih suka menyendiri dibandingkan simpanse atau gorila. Penelitian ini menunjukkan bahwa kehidupan sosial mereka ternyata lebih dinamis, terutama ketika melibatkan induk dan anak.
Para peneliti menilai keputusan pergerakan induk tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan dirinya sendiri, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh kebutuhan perkembangan anak.
Penelitian jangka panjang seperti ini juga memperlihatkan pentingnya menjaga habitat alami orangutan. Interaksi antara induk dan anak dengan individu lain dapat dipelajari secara lebih mendalam ketika satwa tersebut hidup bebas di lingkungan aslinya.
Bagi ilmuwan, temuan dari hutan Kalimantan ini menjadi bukti tambahan bahwa perilaku pengasuhan pada primata memiliki kompleksitas yang menarik untuk terus dipelajari.
Dan bagi kita, penelitian tersebut memperlihatkan satu hal yang terasa akrab: bahkan di tengah hutan Kalimantan, seekor induk orangutan ternyata juga berupaya agar anaknya punya teman bermain.
(afr/afr)



