Gunung Anak Krakatau ternyata kembali membangun tubuhnya setelah sebagian besar gunung runtuh ke laut pada Desember 2018.
Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama University of Birmingham, Institut Teknologi Bandung (ITB), Penn State University, British Geological Survey, University of Oxford, dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan proses pertumbuhan kembali tersebut masih berlangsung hingga 2026.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Dini Nurfiani menjelaskan, perjalanan Anak Krakatau memperlihatkan bahwa gunung api merupakan sistem yang terus berubah. Setelah mengalami keruntuhan besar pada 2018, aktivitas erupsi secara bertahap kembali membentuk tubuh gunung melalui material vulkanik dan lava baru.
"Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali. Setelah kolaps pada 2018, morfologi dan gaya erupsi berubah secara drastis, lalu diikuti fase pertumbuhan kembali melalui erupsi dan pembentukan lava baru," jelas Dini dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (25/9/2026).
Anak Krakatau mengalami perubahan paling drastis pada 22 Desember 2018. Saat itu, sektor barat daya gunung runtuh ke laut dengan volume material sekitar 0,116 kilometer kubik.
Keruntuhan tersebut menghilangkan sebagian besar tubuh Anak Krakatau yang berada di atas permukaan laut. Ketinggian gunung yang sebelumnya mencapai sekitar 330 meter turun menjadi sekitar 120 meter.
Namun, keruntuhan tersebut bukan menjadi akhir dari pertumbuhan Anak Krakatau. Setelah tubuh gunung berubah drastis, aktivitas vulkanik kembali membangun bagian yang hilang secara bertahap.
Sejak 2019, Anak Krakatau memasuki fase rekonstruksi dan pertumbuhan kembali. Aktivitas yang awalnya masih banyak dipengaruhi interaksi magma dengan air laut kemudian berkembang menjadi erupsi Strombolian, lava fountain, hingga aliran lava.
Material yang dihasilkan dari aktivitas tersebut menumpuk di dalam kawah pascakolaps dan secara perlahan membentuk kerucut baru.
"Setelah kolaps, Anak Krakatau memasuki fase pembangunan kembali. Aktivitas berkembang dari erupsi yang masih dipengaruhi interaksi air menuju Strombolian, lava fountain, dan aliran lava, yang secara bertahap membangun kerucut baru di dalam kawah pascakolaps," kata Dini.
Salah satu proses pertumbuhan tersebut terlihat dari pembentukan lava pada 2020. Lava baru kemudian menumpuk di atas material hasil aktivitas vulkanik setelah keruntuhan.
Simak Video "Video: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Jangkau Lampung hingga Jawa Barat"
(agt/afr)