Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Anak Krakatau Pernah Muntahkan Magma Setara 10 Tahun dalam 2 Pekan

Anak Krakatau Pernah Muntahkan Magma Setara 10 Tahun dalam 2 Pekan


Rachmatunnisa - detikInet

Kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Anak Krakatau pernah mengalami lonjakan erupsi luar biasa setelah sebagian tubuh gunung api itu runtuh pada 2018. Dalam waktu sekitar satu hingga dua pekan, magma yang keluar diperkirakan setara dengan jumlah magma yang biasanya dikeluarkan selama sekitar 10 tahun sebelum keruntuhan.

Hal tersebut diungkapkan Prof Sebastian Watt dari University of Birmingham dalam sesi tanya jawab mengenai perkembangan Anak Krakatau, di webinar 'Karakteristik Vulkanik Gunung Api Krakatau: Sistem Magmatik, Sejarah Evolusi, dan Pemantauan Tsunami Real-time', Senin (14/9).

Watt menjelaskan, keruntuhan lateral pada 2018 menghilangkan sekitar 350 meter batuan dari bagian atas saluran magma. Hilangnya material tersebut kemudian membuat sistem magma mengalami pelepasan beban.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekitar 350 meter batuan hilang dalam keruntuhan lateral dari atas saluran. Setelah itu terjadi laju erupsi yang sangat tinggi, dengan magma yang mungkin setara dengan sekitar 10 tahun magma dari periode sebelum keruntuhan sejak 1960-an, yang keluar dalam waktu sekitar satu atau dua pekan," jelas Watt.

Ia memaparkan, tingginya laju erupsi pada akhir 2018 hingga awal 2019 merupakan respons terhadap berkurangnya beban tubuh gunung api. Sekitar 350 meter batuan yang sebelumnya berada di atas saluran magma telah hilang dalam keruntuhan tersebut.

ADVERTISEMENT

Analisis petrologi terhadap material erupsi juga konsisten dengan adanya dekompresi pada sistem magma. Kondisi tersebut, memungkinkan magma yang berada di bawah Anak Krakatau naik dengan sangat cepat ke permukaan.

Laju Erupsi Mulai Melambat

Setelah lonjakan ekstrem pada 2018 hingga awal 2019, laju erupsi Anak Krakatau pada periode 2019-2023 masih tergolong tinggi. Namun, Watt mengatakan terdapat tanda bahwa laju tersebut mulai menurun. Ia memperkirakan, jika pola pertumbuhan gunung api terus mengikuti pola sebelumnya, laju erupsi kemungkinan akan semakin lambat.

"Saya memperkirakan bahwa jika pertumbuhan erupsi terus berlangsung, laju erupsi akan menjadi lebih lambat. Jadi, itu adalah perkiraan saya berdasarkan pola sebelumnya. Tetapi tentu saja, itu tidak pasti," ujar Watt.

Perkembangan ini menarik karena pola Anak Krakatau sebelum 2018 menunjukkan adanya perubahan dalam cara magma mencapai permukaan. Dari rekonstruksi pertumbuhan sejak kemunculannya, laju pertumbuhan Anak Krakatau relatif stabil hingga sekitar 1960.

Setelah itu, laju pertumbuhannya mulai melambat. Watt dan tim menafsirkan perubahan tersebut sebagai indikasi semakin banyak magma yang tersimpan di dalam kerak, sementara lebih sedikit magma yang keluar dalam bentuk erupsi.

Dalam jangka waktu yang jauh lebih panjang, penyimpanan magma di kerak dapat memungkinkan magma mengalami evolusi kimia. Magma yang semakin kaya silika secara umum dapat berkaitan dengan gaya erupsi yang lebih eksplosif.

Namun, Watt menekankan bahwa belum ada bukti jelas Anak Krakatau sudah mengalami perubahan menuju kondisi tersebut.

"Kita belum pernah melihat itu di Anak Krakatau. Kita tidak tahu berapa lama proses itu akan berlangsung, tetapi yang kita tahu dari data yang ada dalam perspektif yang lebih panjang, hal itu memang terjadi. Jadi, kita mungkin memperkirakan hal itu terjadi pada suatu titik, tetapi kita tidak tahu berapa lama proses itu akan berlangsung," kata Watt.

Watt kemudian menjelaskan bahwa perubahan tersebut berkaitan dengan kebutuhan akan magma yang lebih kaya silika untuk menghasilkan erupsi seperti Plinian atau sub-Plinian. Namun, ia kembali menegaskan bahwa bukti untuk kondisi tersebut belum terlihat jelas pada Anak Krakatau.

Dengan demikian, lonjakan erupsi setelah keruntuhan 2018 tidak bisa langsung diartikan sebagai tanda Anak Krakatau telah berubah menjadi gunung api dengan gaya erupsi baru. Justru, para peneliti masih perlu melihat bagaimana sistem tersebut berkembang dari waktu ke waktu.

Watt mengatakan laju naiknya magma dan laju erupsi telah menurun sejak 2019, sementara karakter magma yang naik mulai lebih mirip dengan sampel dari sekitar 1960. Pola tersebut menjadi salah satu alasan ia memperkirakan laju erupsi dapat terus melambat, meski kemungkinan itu belum dapat dipastikan.

Karena itu, aktivitas Anak Krakatau tetap perlu dibandingkan dengan rekam jejak sebelumnya. Data erupsi terbaru dan erupsi berikutnya dapat membantu para ilmuwan mengetahui apakah gunung api tersebut masih mengikuti pola yang sudah dikenali atau mulai menunjukkan perilaku berbeda.

"Masih ada kebutuhan dan kepentingan untuk menilai erupsi terbaru dan erupsi masa depan, untuk melihat apakah perkiraan kami tepat atau apakah gunung api sedang berperilaku dengan cara yang berbeda dari aktivitas sebelumnya," ujar Watt.



(rns/rns)




Hide Ads