Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Ledakan Populasi Ikan Nila Bikin Nelayan Thailand Kehilangan Udang

Ledakan Populasi Ikan Nila Bikin Nelayan Thailand Kehilangan Udang


Rachmatunnisa - detikInet

Blackthin tilapia
Blackchin tilapia kini telah menyebar di sumber air di 17 provinsi di Thailand. Sumber: Kementerian Pertanian
Jakarta -

Ikan yang masih berkerabat dengan nila menjadi masalah serius di Thailand. Populasinya meledak, memangsa udang, kepiting, dan ikan habitat asli hingga mengganggu ekosistem perairan sekaligus mata pencaharian nelayan.

Ikan tersebut adalah blackchin tilapia (Sarotherodon melanotheron), spesies dari famili Cichlidae. Famili yang sama juga mencakup ikan nila yang umum dibudidayakan di Indonesia, tetapi blackchin tilapia bukan spesies nila yang sama.

Ikan ini berasal dari Afrika Barat dan pertama kali dilaporkan menyebar di Thailand pada 2011. Kini, blackchin tilapia telah ditemukan di sedikitnya 19 provinsi, dari kanal di Bangkok hingga perairan pesisir Pattaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Provinsi Samut Songkhram, dampaknya terasa langsung bagi pembudidaya udang. Wallop Khunjaen, seorang nelayan yang sebelumnya membudidayakan udang, terpaksa menghentikan usahanya setelah hampir seluruh sekitar satu juta benih udang di kolamnya habis dimangsa blackchin tilapia hanya dalam waktu dua bulan.

"Mereka memakan semuanya. Mereka memakan udang, bahkan kepiting," kata Wallop seperti dikutip dari The Guardian.

ADVERTISEMENT

Nelayan setempat juga mulai jarang menemukan beberapa spesies ikan asli dan kepiting fiddler yang sebelumnya umum dijumpai. Kemampuan blackchin tilapia bertahan hidup menjadi salah satu alasan mengapa ikan ini sulit dikendalikan. Spesies tersebut mampu hidup di air tawar maupun payau, sehingga dapat menempati sungai, kanal, tambak, muara, hingga wilayah pesisir.

Blackchin tilapia juga berkembang biak dengan cepat dan memiliki tingkat kelangsungan hidup anakan yang tinggi. Setelah populasinya ditekan, jumlahnya dapat kembali meningkat dengan cepat.

Blackthin tilapiaBlackchin tilapia Foto: Bangkok Tribune

Thotsapol Chaianunporn, asisten profesor di Departemen Ilmu Lingkungan Khon Kaen University, mengatakan situasinya sudah sulit dikembalikan seperti semula. "Kita sudah jauh melewati titik di mana kita bisa kembali seperti semula," ujarnya.

Dampak ikan invasif ini tidak berhenti pada hewan yang dimakannya. Blackchin tilapia juga memakan zooplankton, organisme mikroskopis yang berperan penting dalam ekosistem perairan. Zooplankton antara lain memakan alga sehingga membantu mengendalikan ledakan pertumbuhan alga. Jika jumlah zooplankton berkurang akibat tekanan dari ikan invasif, keseimbangan ekosistem perairan juga dapat berubah.

Perilaku reproduksi ikan ini turut menjadi perhatian. Betina menggali lubang di dasar berpasir untuk membuat tempat bersarang. Jika dilakukan oleh ribuan ikan secara bersamaan, aktivitas tersebut dapat meningkatkan sedimentasi dan mengganggu organisme yang hidup di dasar perairan.

"Ketika ribuan betina menggali lubang, hal itu akan memengaruhi invertebrata bentik, atau bahkan ikan yang ada di sana," kata Thotsapol seraya memperingatkan perubahan tersebut dapat memengaruhi proses fotosintesis tumbuhan bawah air.

Pemerintah Thailand telah mencoba sejumlah cara untuk menekan populasinya. Salah satunya dengan melepas ikan kakap putih Asia sebagai predator. Peneliti juga mengembangkan blackchin tilapia yang menghasilkan keturunan steril.

Masyarakat bahkan turut diberi insentif untuk menangkap ikan tersebut. Namun, para ahli menilai upaya membasmi seluruh populasinya hampir tidak mungkin dilakukan.

Karena itu, salah satu pendekatan yang dianggap lebih realistis adalah memanfaatkannya secara ekonomi. Ikan tersebut telah dicoba sebagai bahan pakan ternak, produk makanan fermentasi, hingga makanan untuk manusia.

Adisorn Jamsuksaward, pemilik restoran makanan laut di Samut Prakan, termasuk yang mencoba mengolahnya. "Awalnya orang-orang ragu, tetapi setelah mencobanya, mereka bilang rasanya enak," ujarnya.

Kasus di Thailand juga mendorong penggunaan teknologi untuk mendeteksi ikan invasif lebih awal. Salah satunya adalah environmental DNA (eDNA). Teknik ini memungkinkan peneliti mengambil sampel air kemudian mencari potongan DNA yang ditinggalkan organisme di lingkungan.

Dean Jerry, profesor bidang genetika akuakultur di James Cook University, mengatakan ikan termasuk hewan yang banyak melepaskan DNA ke lingkungan. "Ikan adalah pelepas (DNA) yang sangat besar. Sampel air menjadi semacam 'sup DNA' yang dapat dianalisis untuk mengetahui keberadaan spesies tertentu," " kata Jerry.

Teknologi seperti eDNA penting karena semakin cepat spesies invasif terdeteksi, semakin besar peluang populasinya dikendalikan sebelum menyebar luas.

Namun di Thailand, tantangannya sudah jauh lebih besar. Seorang nelayan sekaligus penjual jaring di Bangkok, Thanandon Charoenhiransaku, menggambarkan betapa melimpahnya ikan tersebut di wilayah perairan mereka.

"Ketika Anda melempar jaring tiga kali, Anda bisa dengan mudah mendapatkan 20 hingga 30 kg blackchin tilapia sebanyak itulah jumlahnya," katanya.

Kasus ini menjadi contoh bagaimana spesies asing yang sudah telanjur menetap dapat mengubah rantai makanan, habitat, dan kehidupan masyarakat. Ketika populasinya sudah mencapai jumlah besar, mengembalikan ekosistem ke kondisi semula bisa jauh lebih sulit dibandingkan mencegahnya sejak awal.



(rns/rns)




Hide Ads