Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Teliti Gizi Susu Kecoa, Ilmuwan Raih Nobel

Teliti Gizi Susu Kecoa, Ilmuwan Raih Nobel


Rachmatunnisa - detikInet

Ilustrasi Kecoa
Foto: Picas Joe/Pexels
Jakarta -

Istilah susu kecoa mungkin terdengar seperti sesuatu yang aneh bahkan menjijikkan. Namun, di baliknya ada fenomena biologi yang menarik. Susu dari salah satu spesies kecoa ternyata menyimpan energi tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan protein susu sapi dalam jumlah yang setara.

Temuan inilah yang mengantarkan sekelompok ilmuwan, yakni Leonard Chavas (Nagoya University), Ramaswamy Subramanian (Purdue University), dan Nathan Coussens (Frederick National Laboratory for Cancer Research) meraih Ig Nobel Prize Kimia 2026.

Penelitian tersebut mengungkap bagaimana Diploptera punctata, atau kecoa kumbang Pasifik, memberi makan embrio di dalam tubuh induknya menggunakan cairan kaya nutrisi yang kemudian berubah menjadi kristal protein.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak seperti kebanyakan kecoa, D. punctata merupakan salah satu spesies kecoa yang melahirkan anak hidup. Induk betina menghasilkan cairan mirip susu di dalam brood sac, bagian tubuh yang berfungsi seperti rahim.

Cairan tersebut diminum oleh embrio yang sedang berkembang. Setelah masuk ke saluran pencernaan embrio, sebagian cairan kemudian terkonsentrasi dan membentuk kristal-kristal kecil.

ADVERTISEMENT

Para peneliti tertarik mempelajari kristal tersebut karena bentuknya tidak biasa. Mereka kemudian menggunakan teknik kristalografi sinar-X untuk melihat struktur protein hingga tingkat atom.

Hasil analisis menunjukkan kristal tersebut bukan sekadar kumpulan protein. Komposisinya juga melibatkan karbohidrat dan lipid. Dengan struktur seperti itu, kristal dapat berfungsi sebagai semacam cadangan makanan padat energi bagi embrio kecoa.

Penelitian yang menjadi dasar penghargaan tersebut sebenarnya telah dipublikasikan pada 2016 di IUCrJ. Tim peneliti mempelajari struktur kristal protein yang terbentuk secara alami di dalam embrio D. punctata.

Dikutip dari The Scientist, bagian yang paling menarik muncul ketika kandungan energi kristal susu kecoa dibandingkan dengan susu sapi. Peneliti menemukan satu kristal susu kecoa dapat mengandung lebih dari tiga kali energi susu sapi dalam jumlah yang sama.

Kandungan tersebut membantu menyediakan pasokan nutrisi yang relatif terkonsentrasi bagi embrio yang sedang tumbuh.

Fenomena ini juga menjelaskan mengapa kristalisasi tersebut penting. Embrio tidak harus terus-menerus mendapatkan makanan dalam bentuk cair. Nutrisi yang sudah terkonsentrasi menjadi kristal dapat berfungsi sebagai sumber energi yang tersedia selama perkembangan.

Penghargaan atas penelitian ini diberikan pada 3 September 2026 dalam seremoni di Zurich, Swiss. Ig Nobel memang dirancang untuk merayakan penelitian yang unik dan tidak biasa. Namun, penghargaan tersebut bukan berarti penelitian yang diberikan bersifat palsu atau sekadar lelucon.

Riset susu kecoa ini menggunakan metode biologi struktural dan kristalografi sinar-X untuk menjawab pertanyaan ilmiah tentang bagaimana embrio kecoa memperoleh nutrisi. Yang juga perlu digarisbawahi, temuan tersebut bukan berarti susu kecoa siap menjadi pengganti susu sapi atau makanan manusia.

Penelitian ini terutama menjelaskan mekanisme nutrisi pada D. punctata dan struktur molekul yang digunakan embrionya untuk bertahan dan berkembang. Justru dari sesuatu yang selama ini dianggap menjijikkan, ilmuwan menemukan strategi biologis yang sangat efisien, yakni mengubah cairan kaya nutrisi menjadi kristal protein yang menyimpan energi dalam jumlah tinggi.



(rns/rns)




Hide Ads