×
Ad

Gunung Api Raksasa Terkubur 454 Juta Tahun Ditemukan

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 14 Sep 2026 12:10 WIB
Ilustrasi gunung berapi. Foto: Getty Images/iStockphoto/Vershinin-M
Jakarta -

Di bawah bentang alam datar di pesisir timur Inggris ternyata tersembunyi jejak sebuah supervolcano raksasa. Gunung api tersebut sudah lama mati dan terkubur, tetapi para ilmuwan kini berhasil mengungkap keberadaannya lewat kristal-kristal berukuran sangat kecil.

Supervolcano yang berada di bawah kawasan The Wash, wilayah estuari di antara Norfolk dan Lincolnshire, diperkirakan aktif sekitar 454 juta tahun lalu. Saat itu, jauh sebelum dinosaurus muncul, sebuah letusan dahsyat menyemburkan ratusan hingga ribuan kilometer kubik material vulkanik ke atmosfer.

Abu letusannya bahkan diduga menyebar hingga wilayah yang kini menjadi Skandinavia dan Eropa utara. Temuan ini berasal dari penelitian ilmuwan British Geological Survey (BGS) dan University of Oslo yang menganalisis kembali sampel batuan dari lubang bor di Norfolk dan Lincolnshire.

Yang membuat temuan ini menarik adalah tidak adanya gunung raksasa yang bisa dilihat di permukaan. Sistem vulkanik tersebut telah terkubur dan mengalami perubahan akibat proses geologi selama ratusan juta tahun. Kawasan di atasnya kini justru dikenal sebagai salah satu bentang alam yang relatif datar.

Para peneliti menggunakan sampel batuan dari dua lokasi yang berjarak sekitar 65 kilometer. Di dalamnya terdapat kristal zirkon yang terbentuk dari magma sebelum letusan terjadi. Kristal tersebut berperan seperti jam geologi.

Zirkon dapat mengandung uranium yang secara perlahan meluruh menjadi timbal. Dengan mengukur isotop uranium dan timbal di dalam kristal, ilmuwan dapat memperkirakan kapan kristal tersebut terbentuk.

Hasil analisis menunjukkan kristal dari kedua lokasi memiliki usia yang hampir sama, sekitar 454,4 juta tahun. Usia tersebut juga sangat mirip dengan usia lapisan abu vulkanik yang dikenal sebagai Kinnekulle tephra di kawasan Skandinavia.

Kinnekulle tephra selama puluhan tahun menjadi teka-teki bagi ahli geologi. Lapisan abu vulkanik tersebut ditemukan tersebar di Norwegia, Swedia, wilayah Baltik, Belarus hingga Polandia.

Pertanyaannya, gunung api mana yang menghasilkan abu sebanyak itu? Penelitian terbaru memberikan kandidat kuat, yakni sistem vulkanik yang kini tersembunyi di bawah The Wash. Sekitar 454 juta tahun lalu, posisi benua tentu sangat berbeda dengan sekarang. Inggris dan Skandinavia dipisahkan oleh laut purba bernama Tornquist Sea.

Dalam skenario yang diajukan para peneliti, letusan besar dari wilayah yang kini menjadi Inggris timur melontarkan abu ke atmosfer. Angin kemudian membawa material tersebut melintasi laut purba hingga akhirnya mengendap di wilayah Skandinavia.

Selain mencocokkan usia kristal, ilmuwan juga membandingkan komposisi kimia mineral apatit dari batuan di Inggris dengan mineral yang terdapat pada lapisan abu di Skandinavia. Kemiripan komposisinya semakin memperkuat dugaan bahwa keduanya memiliki sumber yang sama.

Namun, para peneliti menyebut The Wash Igneous Complex sebagai kandidat sumber Kinnekulle tephra, sehingga hubungan tersebut masih merupakan kesimpulan ilmiah yang didukung sejumlah bukti, bukan kepastian mutlak.

Skala letusan yang diperkirakan terjadi di wilayah tersebut sangat besar. BGS menyebut letusan sekitar 454,45 juta tahun lalu melemparkan beberapa ratus hingga sekitar 1.000 kilometer kubik material ke stratosfer. BGS menggambarkan energinya setara dengan beberapa ribu bom hidrogen.

Besarnya volume material inilah yang membuat sistem vulkanik tersebut dikategorikan sebagai supervolcano. Sebagai pembanding, supervolcano bukan sekadar gunung api yang terlihat besar. Istilah tersebut biasanya digunakan untuk sistem vulkanik yang pernah menghasilkan letusan dengan volume material sangat besar, jauh melampaui erupsi gunung api yang umum terjadi.

Meski terdengar mengerikan, temuan ini bukan tanda adanya ancaman letusan bagi Inggris saat ini. Tim Pharaoh, peneliti BGS sekaligus penulis utama penelitian tersebut, menegaskan bahwa sistem vulkanik itu sudah punah.

"Berbeda dengan patahan yang dapat kembali aktif secara seismik, gunung api tidak bisa. Begitu gunung api sudah punah, ya sudah. Tidak ada yang perlu mengkhawatirkan supervolcano ini akan meletus lagi," ujarnya seperti dikutip dari BBC.

Justru nilai penting penemuan tersebut berada pada rekonstruksi sejarah Bumi. Dari kristal yang ukurannya lebih kecil dari diameter rambut manusia, ilmuwan dapat menghubungkan batuan yang terkubur di Inggris dengan lapisan abu yang tersebar ribuan kilometer jauhnya.

Temuan itu sekaligus menunjukkan bahwa permukaan Bumi yang terlihat tenang hari ini bisa menyimpan bukti dari peristiwa geologi luar biasa yang terjadi ratusan juta tahun lalu.

Saksikan Live DetikSore :



Simak Video "Video: Penampakan Letusan Gunung Berapi Kilauea di Hawaii"

(rns/rns)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork