Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Dentuman Diduga dari Anak Krakatau Tak Merata, Ada Fenomena Unik

Dentuman Diduga dari Anak Krakatau Tak Merata, Ada Fenomena Unik


Adi Fida Rahman - detikInet

Anak Krakatau
Dentuman Diduga dari Anak Krakatau Tak Merata, Ada Fenomena Unik Foto: MAGMA Indonesia
Daftar Isi
Jakarta -

Dentuman yang diduga berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau terdengar hingga sejumlah wilayah yang berjarak ratusan kilometer. Menariknya, suara tersebut tidak terdengar secara merata.

Ada wilayah yang jauh dari Anak Krakatau justru mendengar dentuman, sementara di lokasi lain suara erupsi tidak terdengar. Di Bandung Raya, bahkan ada warga yang melaporkan getaran sampai membuat kaca dan bagian rumah bergetar.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan: mengapa suara erupsi bisa terdengar sangat jauh tetapi tidak merata?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Rita Susilawati mengatakan fenomena semacam ini secara ilmiah memang dapat terjadi. Berdasarkan literatur dan catatan erupsi sebelumnya, suara gunung api tidak selalu terdengar lebih kuat di lokasi yang lebih dekat dengan sumber.

"Ada beberapa laporan yang disampaikan, ketika ada erupsi gunung api, suaranya itu bisa merambat jauh sampai ke wilayah-wilayah yang memang jauh dari sumber gunung apinya tersebut," kata Rita dalam konferensi pers, Sabtu (5/9/2026).

Dekat Tak Dengar, Jauh Malah Terdengar

Rita mengungkap fenomena menarik dalam perambatan energi akustik dari erupsi gunung api. Dalam sejumlah kejadian, suara erupsi bisa tidak terdengar di lokasi tertentu yang lebih dekat, tetapi justru terdengar di wilayah yang lebih jauh.

"Dari literatur, itu memang suara akustik dari suatu yang besar itu bisa merambat sampai jauh," jelasnya.

Perambatan suara dapat dipengaruhi berbagai kondisi atmosfer. PVMBG menjelaskan perbedaan temperatur, arah angin, dan kecepatan angin bisa memengaruhi perjalanan suara erupsi.

Energi akustik besar yang dilepaskan ketika erupsi dapat merambat hingga ratusan kilometer. Fenomena serupa pernah terjadi saat erupsi Gunung Kelud pada 2014, ketika suara dentuman dilaporkan terdengar hingga Yogyakarta dan sejumlah wilayah Jawa Tengah.

Kejadian serupa juga pernah dikaitkan dengan Anak Krakatau pada April 2020. Saat itu, laporan dentuman di Jabodetabek memiliki kesesuaian waktu dengan erupsi Anak Krakatau.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Rita SusilawatiKepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Rita Susilawati Foto: detikINET

Namun PVMBG menekankan kesamaan waktu hanya menunjukkan kemungkinan korelasi dan belum cukup untuk membuktikan sumber dentuman secara pasti.

"Kesamaan waktu memang bisa merupakan indikasi korelasi, tetapi ini juga belum dengan sendirinya membuktikan sumber dentuman," ujar Rita.

Saat disinggung apakah topografi Bandung yang berupa cekungan membuat suara atau getaran terasa lebih kuat di wilayah tersebut. Rita mengatakan hal itu belum dapat dipastikan.

Menurutnya, diperlukan analisis lebih lanjut dari institusi atau pakar yang secara khusus memahami perambatan gelombang suara dan kondisi atmosfer.

"Untuk hal ini, jawabannya kita harus memastikan hal tersebut," katanya.

Dengan demikian, PVMBG belum menyimpulkan bahwa kondisi geografis Bandung menjadi penyebab dentuman terdengar lebih jelas atau membuat kaca dan bagian rumah bergetar.

PVMBG baru menjelaskan berdasarkan literatur bahwa energi akustik dalam jumlah besar memang dapat merambat sangat jauh dan pola suara yang terdengar di permukaan tidak harus merata.

Erupsi Gunung Anak Krakatau menghasilkan getaran kuat hingga pintu dan jendela bergetar sendiri, Sabtu (5/9/2026).Erupsi Gunung Anak Krakatau menghasilkan getaran kuat hingga pintu dan jendela bergetar sendiri, Sabtu (5/9/2026). Foto: dok. Istimewa

Anak Krakatau Masih Dugaan

PVMBG menduga aktivitas Anak Krakatau memiliki hubungan dengan laporan dentuman karena keduanya terjadi dalam waktu yang berdekatan. Namun pencocokan data masih diperlukan sebelum sumber suara dapat dipastikan.

Anak Krakatau mengalami erupsi menerus selama beberapa jam dengan semburan merah menyala menyerupai lava fountain atau air mancur lava. Erupsi dengan karakteristik tertentu dapat menghasilkan energi akustik besar yang mampu merambat hingga jarak jauh.

"Dugaan kuatnya memang itu berhubungan dengan Gunung Api Anak Krakatau. Walaupun kita perlu mencocokkan data terlebih dahulu," kata Rita.

Karena itu, fenomena dentuman yang tidak terdengar merata bukan sesuatu yang mustahil secara ilmiah. Namun penyebab spesifik mengapa suara terdengar kuat di sebagian wilayah Bandung dan tidak di wilayah lainnya masih memerlukan kajian lebih lanjut.



(afr/afr)






Hide Ads